Artificial Intelligence (AI) sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang mengubah cara kita berpikir, bertindak, dan berinteraksi. Bagaimana kita harus menyikapinya?
AI berkembang lebih cepat dari yang pernah kita bayangkan. Dalam beberapa tahun terakhir, AI telah masuk ke berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Dari sistem pembelajaran adaptif hingga chatbot edukasi, dari analisis data siswa hingga personalisasi pembelajaran. AI menawarkan banyak potensi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran secara signifikan.
Namun, seperti pepatah yang dipopulerkan karakter fiksi Spiderman ‘with great power comes great responsibility’, demikian juga dengan AI. Dengan potensinya yang begitu besar, datang pula tanggung jawab yang besar.
Sebagai pemanfaat, kita tidak lagi dihadapkan pada pertanyaan: “Do we need to adopt AI in education and life?”. Kita sudah melewati masa itu, karena selama beberapa tahun terakhir ini, REFO dan saya telah terus mengadvokasi tentang implementasi AI dalam pendidikan secara komprehensif, dari how-to hingga etikanya.
Sekarang, pertanyaan besarnya adalah: “How to embrace AI, not just as a tool, but as a transformative force that must be approached with purpose, responsibility, and a big heart?”
AI adalah alat yang sangat kuat, tetapi tetaplah merely a tool. Tujuan akhirnya adalah untuk memperkaya hidup manusia, bukan menggantikan peran atau meniadakan interaksi manusia.
Kita sering kali melihat AI dengan dua kacamata ekstrem: terlalu optimis atau terlalu takut. Padahal, posisi paling bijak adalah di tengah, yaitu realistis dan sadar bahwa AI adalah alat, bukan tujuan akhir. Oleh karenanya, kesadaran dan tanggung jawab harus menjadi fondasi dalam setiap langkah kita.
Sebagai seorang ibu dan pemimpin, saya melihat tantangan besar yang kerap luput dari sorotan dalam era ini adalah dampak teknologi terhadap kesehatan mental, terutama generasi muda yang tumbuh dalam dunia digital. Ilusi sosial, peer pressure, ekspektasi pencapaian yang tak realistis, dan banjir informasi menciptakan tantangan psikologis baru. Kita bertanggung jawab mendorong literasi digital yang seimbang—tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga kemampuan memilah informasi, mengelola emosi dan menjaga kesehatan mental, serta kemampuan berpikir kritis.
Keseimbangan Antara Pemanfaatan AI dan Kemampuan Kognitif
Di era ini, saya percaya pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kualitas kemanusiaan. Kita tidak boleh membiarkan pemanfaatan AI, terutama oleh anak-anak, menggerus human skills—rangkaian keterampilan yang merupakan fondasi interaksi antarmanusia yang efektif, yang akan tetap penting dan relevan sepanjang zaman. Human skills, yaitu komunikasi, empati, kesadaran diri, adaptabilitas, pemecahan masalah, kepemimpinan, kerja sama, kreativitas, dan berpikir kritis bukanlah pelengkap, melainkan inti dari kesiapan individu untuk menghadapi masa depan yang terus berubah.
Sejauh pengamatan saya, berpikir kritis (critical thinking) adalah salah satu yang sering kali terancam oleh kehadiran AI, dan sebuah studi mendukungnya, di mana ditemukan korelasi negatif antara penggunaan AI dan skor berpikir kritis. Siswa yang terlalu bergantung pada AI cenderung memiliki kemampuan berpikir kritis dan problem-solving yang lebih rendah. Ketergantungan ini membuat mereka melewatkan proses kognitif penting yang merupakan kemampuan dasar dalam berpikir ilmiah, yaitu membentuk hipotesis, menganalisis, dan membuat kesimpulan.
Lebih dari itu, untuk dapat thrive—dan bukan sekadar survive, anak-anak ini perlu mengembangkan fungsi eksekutif yang biasa disebut sebagai “sistem manajemen otak”. Fungsi eksekutif berkembang dengan cepat pada masa kanak-kanak dan usia remaja, serta terus berkembang dan menguat sepanjang masa dewasa. Namun berpotensi menurun seiring bertambahnya usia.
Apa sih fungsi eksekutif? Intinya, executive function is a set of mental skills, yang mencakup memori kerja, pemikiran yang fleksibel (perencanaan, penalaran, pemecahan masalah, multitasking), dan pengendalian diri. Kita menggunakan keterampilan ini untuk belajar, bekerja, dan mengelola kehidupan sehari-hari. When people struggle with executive function, it impacts them in all areas of life. And, yes! Sekali lagi, ketergantungan yang berlebihan terhadap AI dapat berpotensi menyebabkan penurunan fungsi eksekutif.
Integrasi AI dalam kehidupan anak, baik di rumah maupun sekolah, memang masih paradoksal. Namun kita tidak bisa menghindari AI, ‘kan? Inilah tugas kita, sebagai orang tua dan pendidik, untuk menentukan kapan, di mana dan bagaimana mengintegrasikan AI sehingga dapat membantu anak di sekolah dan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, tanpa mengikis kemampuan kognitif mereka.
Menjadi AI-ducated: Lebih dari Sekadar Melek Teknologi
Setelah merenungkan hal ini selama beberapa waktu, saya menemukan suatu istilah yang dapat merangkum segala aspek yang perlu kita pahami dalam menghadapi AI, yaitu “AI-ducated”.
AI-ducated memadukan dua kata sederhana, yaitu AI dan educated. Meskipun terdengar sederhana, makna dari AI-ducated itu sangat mendalam, lho! AI-ducated melambangkan era baru di mana terdidik berarti memahami kekuatan dan implikasi AI.
Menjadi AI-ducated berarti kita selalu updated, dapat beradaptasi dengan percaya diri, dan membuat pilihan-pilihan yang tak hanya memprioritaskan keterampilan menggunakan teknologi AI yang terus berkembang, tetapi juga mempertimbangkan pemanfaatan AI yang dapat membuat kehidupan kita, sebagai penggunanya, menjadi lebih baik.
It’s about moving forward—boldly and wisely! Menjadi AI-ducated berarti memahami kapan dan untuk apa kita menggunakan AI. Tentunya harus dengan tujuan yang baik, yang dapat memperkaya kehidupan kita. Bukan menggunakannya untuk hal-hal negatif, seperti misalnya, menciptakan hoaks menggunakan deepfake, mengandalkan chatbot 100% untuk membuat karya tulis, dan sebagainya.
Menggunakan teknologi AI bukan sekadar soal menganalisis algoritma, tetapi memahami bagaimana dan kapan kita harus mendengarkan kata hati.
Kolaborasi untuk Masa Depan yang Berkelanjutan
Setelah kita semua terAI-ducated, lalu apa? Apakah cukup jika semua elemen masyarakat telah memahami kekuatan dan implikasi AI? Lebih jauh lagi, seandainya pun kita semua secara individual telah merangkul dan menggunakan AI dengan bijak dan penuh tanggung jawab, apakah itu cukup untuk membentuk masa depan Indonesia?
I always love the ancient African proverb: ‘it takes a village to raise a child’, yang menekankan bahwa pengasuhan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab orang tua, tetapi juga melibatkan seluruh masyarakat. Begitu pula dengan to raise this young generation yang akan menentukan masa depan bangsa. Kita tidak bisa mengandalkan satu pihak untuk mendorong perubahan besar. Butuh kolaborasi lintas sektor untuk memastikan terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Pemerintah harus memastikan akses pemanfaatan AI yang bijak. Pemerintah juga harus membuat regulasi dan kebijakan yang menentukan batasan-batasan agar AI digunakan hanya untuk tujuan yang tepat, dan oleh pengguna yang tepat. Harus ada peran Pemerintah dalam perlindungan digital untuk seluruh masyarakat Indonesia, dari segala rentang usia.
Sekolah dan pendidik harus bisa memutuskan dengan bijak, teknologi mana yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar. Juga memberikan batasan-batasan yang jelas, teknologi tersebut digunakan untuk apa dan oleh siapa. Bukan hanya peserta didik yang memahami pemanfaatan AI, tetapi pendidik harus lebih lebih memahami, sehingga mampu memberikan kontrol terhadap penggunaan AI di lingkungan sekolah.
Industri dan pelaku sistem elektronik harus mematuhi regulasi yang ditetapkan, dan mengimplementasikannya dengan bijak.
Komunitas—sebagai penggerak sosial, dan orang tua—sebagai pendidik yang pertama dan utama, harus mengambil peran aktif dalam membimbing generasi muda untuk tidak sekadar mengikuti perubahan, tetapi berdaya untuk memimpinnya di masa mendatang. Oleh karenanya, komunitas dan orang tua harus memahami benar tentang potensi dan bahaya dari penggunaan teknologi, sehingga dapat meneruskan pesan penting itu kepada anak-anak.
Saatnya Melangkah dengan Hati
Literasi digital dan AI memang penting, tetapi anak-anak ini membutuhkan lebih dari itu! They need to master the key skills that will define the future. Skills that are not just “nice-to-haves”, but essential for thriving—and not just surviving—in the AI-driven world.
Merangkul AI bukan soal ikut tren. Ini soal tanggung jawab. Kita tidak bisa memprediksi masa depan sepenuhnya, tetapi kita bisa mempersiapkan generasi untuk memimpin masa depan melalui pendidikan yang berpihak pada manusia dan dipandu oleh nilai-nilai luhur kemanusiaan.
Kini adalah saatnya bagi kita untuk melangkah dengan hati. Untuk membuat keputusan-keputusan yang tepat dan strategis, sehingga anak-anak ini tidak hanya siap menghadapi masa depan, tetapi juga empowered untuk memimpin the infinity era. Mari kita melangkah bersama, dengan hati yang terbuka, kepala yang jernih, dan visi yang jauh ke depan.
Untuk itu, saya mengajak Anda semua untuk bergabung dalam Indonesia Future of Learning Summit (IFLS) 2025, salah satu buah pikir saya yang memfasilitasi education enthusiasts di Indonesia untuk dapat mengakses dengan mudah konten-konten edukasi yang berkualitas dan terjangkau, serta dengan konteks lokal yang kuat.
IFLS 2025 mengangkat tema “AI-ducated: Unlocking The Future with AI Skills and Beyond”, di mana kita akan bersama-sama membahas tuntas how to be AI-ducated dan mengajak kita semua menjadi bagian dari perubahan besar yang membawa harapan, bukan kekhawatiran. Karena masa depan pendidikan dan masa depan bangsa ada di tangan kita semua.
IFLS 2025 hadir bukan hanya sebagai konferensi, tetapi merupakan gerakan bersama. Sebuah forum tempat kita bisa saling belajar, berdialog, dan membangun visi pendidikan Indonesia yang adaptif, adil, dan berkelanjutan.
Salam perjuangan,
Pepita Gunawan
