Menjelang G-Schools Indonesia Summit (GSIS) 2026, REFO masih terus membahas pilar integritas di sekolah. Pada artikel-artikel sebelumnya kita telah bicara tentang kejujuran akademik dan privasi data. Sekarang kita akan masuk ke pilar yang ketiga, yaitu literasi AI.
Mungkin kita masih mengira bahwa tantangan terbesar di era AI adalah cara menggunakannya. Padahal, isu utamanya justru bagaimana kita tetap berpikir sebagai manusia di tengah sistem yang semakin “cerdas”.
Penetrasi AI ke dalam dunia pendidikan sudah begitu mendalam. Sekarang ini bukan lagi soal cara menggunakan AI, tetapi bagaimana kita bertahan dalam dunia yang digerakkan oleh mesin ini. Survei Tirto dan Jakpat (2024) mengungkap fakta 86,21% peserta didik di Indonesia telah menggunakan AI untuk membantu mengerjakan tugas sekolah. Lebih jauh lagi, Chegg Global Student Survey 2025 mencatat bahwa 95% peserta didik di Indonesia telah menggunakan AI untuk mendukung pembelajarannya. Angka ini menegaskan bahwa AI adalah realitas harian.
Anjloknya Literasi Digital
Namun tingginya angka penggunaan AI ini tidak berbanding lurus dengan tingkat literasi. Angka Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) terus menunjukkan peningkatan sejak tahun 2022, tetapi skor Literasi Digital anjlok di tahun 2025—bahkan di bawah tahun 2022.
IMDI menunjukkan bahwa kita semakin terhubung secara infrastruktur digital. Rendahnya skor Literasi Digital menunjukkan bahwa kita belum cukup mahir menggunakan teknologi, maupun melindungi diri dan berpikir kritis terhadap konten yang dihasilkan teknologi tersebut, dalam konteks ini termasuk AI.
Mengutip Tempo, literasi digital mencerminkan kemampuan warga menggunakan teknologi digital secara efektif, aman, dan bertanggung jawab, sekaligus sejalan dengan nilai sosial yang berlaku. Rendahnya literasi digital menghambat upaya membendung misinformasi dan disinformasi. Masyarakat semakin mudah terkecoh hoaks, terutama di era AI, ketika konten asli dan palsu sulit dibedakan dengan mata telanjang. Literasi digital bukan semata soal teknologi, tetapi berkaitan erat dengan daya pikir, ideologi, dan psikologi manusia.
Implikasinya terhadap pendidikan adalah adanya potensi di mana siswa hanya menggunakan AI untuk “menyalin jawaban”. Dan itu bukanlah keahlian, melainkan risiko terhadap integritas. Dengan demikian, literasi AI yang sesungguhnya telah bertransformasi menjadi sebuah survival skill (keterampilan bertahan hidup) yang menentukan masa depan profesional dan etika siswa.
Mengapa Literasi AI Begitu Mendesak?
Berdasarkan laporan The State of Data and AI Literacy 2026, sebanyak 72% pemimpin perusahaan menganggap literasi AI sebagai elemen esensial dalam pekerjaan sehari-hari. Ironisnya, 59% melaporkan adanya kesenjangan keterampilan yang besar di organisasi mereka.
Literasi AI sebagai survival skill mencakup tiga fondasi utama yang diusulkan UNESCO dalam AI Competency Framework for Students:
- Berpikir Kritis terhadap Halusinasi: AI seringkali memberikan informasi yang tampak meyakinkan namun salah secara faktual. Siswa yang literat tidak akan menelan informasi mentah-mentah, melainkan melakukan validasi silang.
- Kesadaran Etika dan Bias: Memahami bahwa algoritma AI dibangun dari data yang mungkin mengandung bias gender, ras, atau budaya.
- Kolaborasi Manusia-AI: Kemampuan untuk menggunakan AI sebagai mitra berpikir (sparring partner), bukan pengganti otak manusia.
Integritas: Benteng di Tengah Arus Otomasi
Dalam konteks G-Schools Indonesia Summit (GSIS) dengan tema “AI and Integrity in Schools”, literasi bukan hanya soal kecanggihan teknis. Integritas muncul ketika seorang siswa memahami keterbatasan AI. Ketika siswa paham bagaimana AI bekerja, mereka akan menyadari bahwa mengandalkan AI sepenuhnya untuk tugas kreatif atau analisis mendalam justru akan mengerdilkan kemampuan berpikir mereka sendiri.
Dunia kerja masa depan (dan bahkan juga di masa kini) tidak lagi mencari orang yang sekadar jago dalam prompt engineering, tetapi mencari individu yang mampu mengkurasi, mengkritisi, dan menyempurnakan hasil AI dengan sentuhan manusia yang etis. Laporan PWC The Fearless Future: 2025 Global AI Jobs Barometer menegaskan bahwa AI membuat manusia lebih berharga. Upah meningkat 2 kali lebih cepat di sektor-sektor yang terpapar AI dan rata-rata, pekerja dengan keterampilan AI mendapatkan premi upah sejumlah 56% lebih besar.
Literasi AI Sebagai Salah Satu Prioritas di Sekolah
Sebagai pendidik, kita wajib mempersiapkan generasi yang tidak hanya mahir menggunakan AI, tetapi juga bijak dalam menjunjung tinggi nilai kemanusiaan demi masa depan yang bermartabat.
Menjadikan literasi AI sebagai prioritas di sekolah bukan berarti kita menyerah pada teknologi. Sebaliknya, ini adalah upaya sadar untuk memberdayakan siswa agar tetap menjadi nahkoda di tengah badai informasi. Dengan literasi yang kuat, integritas akademik tidak lagi dijaga melalui larangan atau detektor AI yang seringkali tidak akurat, melainkan melalui kesadaran siswa bahwa kemampuan berpikir kritis adalah aset yang tidak bisa digantikan oleh mesin mana pun.
Jika AI bisa membantu siswa mengerjakan tugasnya dalam waktu 5 detik, mungkin tugasnya yang perlu diperbarui. Gagasan bahwa integritas bukan hanya soal siswa tidak menyontek atau copy-paste hasil AI, tetapi juga tentang guru yang mendesain ulang cara menguji dan memberikan tugas. Hal ini akan menjadi bahan diskusi yang sangat menarik di GSIS 2026 nanti.
Mari bergerak secara kolektif untuk mendefinisikan masa depan integritas generasi penerus bangsa melalui G-Schools Indonesia Summit (GSIS) 2026 “AI and Integrity in School”.
Penulis: Astrid Prahitaningtyas
Artikel terkait:
- Privasi Data Siswa dan UU PDP: Apa yang Harus Sekolah Lakukan?
- Kejujuran Akademik di Era AI: Membangun Fondasi Integritas untuk Masa Depan
- Kolaborasi Global sebagai Katalisator Pendidikan Inklusif
- Kolaborasi Sekolah, Orang Tua, dan Teknologi dalam Dunia Pendidikan
- Mengukir Arah Baru Pendidikan Berbasis AI untuk Indonesia 2045
