Hampir satu abad telah berlalu sejak lahirnya Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Masihkah semangat itu hidup di dada para pemuda masa kini?
Pada 28 Oktober 1928, sekelompok pemuda dari berbagai daerah di Nusantara mengikrarkan tekad yang melahirkan Sumpah Pemuda, tonggak lahirnya semangat persatuan Indonesia. Mereka bukan hanya bersumpah tentang bahasa, tanah air, dan bangsa yang sama, tetapi juga menyalakan api perubahan yang menembus zaman.
Abad ke-21 membuka peluang besar bagi para pemuda untuk berkarya tanpa batas geografis, menjadi inovator, kreator, dan agen perubahan global. Namun, kemudahan ini datang bersama tantangan besar: arus informasi yang tidak terfilter, budaya instan, dan kecenderungan individualistik yang dapat melemahkan semangat kolektif.
Generasi muda Indonesia dituntut untuk berpikir global tanpa kehilangan akar lokal. Ini berarti mereka bukan hanya harus melek digital, tetapi juga melek nilai, artinya mampu menggunakan teknologi dengan tanggung jawab sosial dan semangat kebangsaan.
Hal ini sejalan dengan pesan World Economic Forum (WEF) dalam Future of Jobs Report 2025 tentang perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan menuntut generasi muda memiliki kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi. Keempatnya adalah pilar utama menuju pendidikan abad ke-21. Karena itu, dunia pendidikan Indonesia perlu mempersiapkan siswa menjadi warga dunia yang berbekal digital skills dan soft skills seperti kepemimpinan serta kolaborasi lintas budaya—dengan tetap membawa semangat gotong royong, solidaritas, dan cinta tanah air.
Meskipun hasil riset UNICEF menyoroti masih adanya kesenjangan pembelajaran digital di Indonesia yang perlu dijembatani agar seluruh anak dan remaja memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang di era digital. Selain masalah perangkat dan infrastruktur yang belum merata, kendala lainnya adalah:
- Siswa memiliki potensi ‘pribumi digital’ (digital native) tetapi kurang memiliki keterampilan yang memadai untuk ekonomi digital.
- Banyak siswa kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan cara belajar yang baru ini, sedangkan orang tua tidak memiliki kapasitas untuk mendukung mereka secara memadai.
- Dukungan yang tidak memadai membuat guru kesulitan beradaptasi dengan pembelajaran digital, diperparah dengan pelatihan formatif berkualitas rendah dan bekal keterampilan digital yang terbatas.
- Intervensi pemerintah yang berfokus pada guru sejauh ini menggunakan pendekatan dari atas ke bawah (top-down) dan sebagian besar gagal untuk melibatkan guru dalam proses perancangan dan penyusunannya.
Peran guru sebagai penyala semangat kebangsaan di era digital semakin krusial sebab harus menghidupkan kembali Sumpah Pemuda melalui pengalaman belajar yang bermakna, bukan sekadar upacara atau hafalan teks. Caranya dapat bermacam-macam, seperti:
- Mengajak siswa untuk menonton film dokumenter, membaca artikel online atau mengikuti forum diskusi online yang membahas tentang sejarah pergerakan pemuda.
- Memanfaatkan platform digital seperti blog, podcast atau media sosial untuk menyuarakan ide dan aspirasi.
- Menggunakan karya seni digital, video inspiratif atau aplikasi yang mempromosikan toleransi, menghormati keragaman budaya dan memupuk semangat gotong royong.
Kegiatan semacam ini mencerminkan arah baru pendidikan Indonesia yang menekankan pembelajaran bermakna dan mendalam. Fokusnya bukan lagi sekadar menyelesaikan silabus, melainkan membentuk pelajar yang mampu berpikir kritis, berkolaborasi lintas budaya, dan peka terhadap isu kemanusiaan. Pemerintah kini menekankan pentingnya pendidikan yang adaptif terhadap perubahan global, memperkuat literasi digital, dan mengintegrasikan nilai-nilai gotong royong serta kebangsaan dalam setiap pengalaman belajar. Dengan cara ini, sekolah diharapkan tidak hanya melahirkan generasi yang cakap teknologi, tetapi juga sadar akan tanggung jawab sosialnya sebagai warga dunia yang berakar pada nilai Indonesia.
Hari ini, hampir seabad Sumpah Pemuda diikrarkan, semangat itu masih hidup hanya saja medan perjuangannya berbeda. Jika dulu para pemuda berjuang melawan penjajahan fisik, kini generasi muda berhadapan dengan tantangan globalisasi, arus digitalisasi, dan disrupsi nilai-nilai kebangsaan.
Dengan demikian, Sumpah Pemuda adalah inspirasi abadi. Di era digital, semangat 1928 menjelma menjadi kolaborasi lintas budaya, inovasi yang memajukan bangsa, dan kepedulian sosial tanpa batas. Pemuda abad ke-21 adalah pewaris yang berpikir global, berjiwa nasional, dan bertindak nyata, melanjutkan sumpah yang tidak pernah padam.
Penulis: Yanti Damayanti
Editor: Astrid Prahitaningtyas
Artikel terkait:
