Pengasuhan Digital dan Tantangannya

pengasuhan digital

Di banyak rumah hari ini, teknologi memang membuat manusia semakin terhubung dengan dunia luar, tetapi menjauhkan kedekatan emosional di dalam keluarga. Meja makan tak lagi menjadi ruang percakapan karena setiap anggota sibuk dengan layar masing-masing.

Hari Keluarga Nasional menjadi pengingat bahwa tantangan keluarga modern bukan lagi sekadar soal ekonomi atau jumlah anak, melainkan bagaimana menjaga hubungan yang hangat dan utuh di tengah derasnya arus digital.

Generasi Alpha Tumbuh Bersama Internet

Indonesia termasuk negara dengan penetrasi internet yang tinggi. Pada 2025, pengguna internet mencapai 229,4 juta jiwa atau sekitar 80,66% populasi, dan hampir separuhnya (48%)  adalah anak-anak di bawah 18 tahun. Sementara itu, 39,71% anak usia dini di Indonesia telah menggunakan ponsel dan 35,57% di antaranya sudah mengakses internet, termasuk 5,88% anak di bawah usia satu tahun yang sudah bersentuhan dengan gawai.

Generasi Alpha tumbuh dengan internet sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Persoalannya, kemampuan digital anak berkembang jauh lebih cepat dibanding kesiapan orang tua dalam mendampingi mereka. Banyak orang tua belum aktif memantau aktivitas daring anak, sementara sebagian masih menganggap aman membagikan identitas anak di media sosial.

Orang Tua Menghadapi Parenting Overload

Di sisi lain, orang tua juga menghadapi tekanan besar. Informasi pengasuhan datang tanpa henti dari media sosial, grup percakapan, webinar, dan berbagai konten digital. Kondisi ini melahirkan parenting overload, ketika orang tua merasa lelah karena terus dibanjiri standar dan nasihat pengasuhan yang sering saling bertentangan.

Budaya kerja yang selalu terhubung juga membuat batas antara pekerjaan dan keluarga semakin kabur. Banyak orang tua hadir secara fisik di rumah, tetapi perhatian mereka tetap tertambat pada ponsel dan laptop. Perkembangan teknologi digital telah melampaui kesiapan sistem perlindungan anak, baik di tingkat keluarga maupun masyarakat. Ini bukan soal siapa yang salah. Ini soal kecepatan perubahan yang melampaui kemampuan adaptasi.

Ketika Algoritma Ikut Mengasuh Anak

Tantangan paling besar adalah anak-anak ini tidak hanya dibesarkan oleh orang tua, tetapi juga oleh algoritma. Media sosial dan konten digital dirancang untuk memaksimalkan screen time, bukan untuk mendukung tumbuh kembang anak.

Mayoritas anak dan remaja Indonesia menggunakan internet untuk hiburan (92%) dan media sosial (69%). Konten video pendek menjadi hiburan internet yang paling sering diakses dan menempati urutan pertama dengan angka sebesar 30,2%. Padahal konten dengan format itu didesain sedemikian rupa untuk memicu dopamin dan mempersingkat rentang perhatian.

Rata-rata screen time di Indonesia lebih dari 7,5 jam per hari, jauh melampaui batas aman yang direkomendasikan. Sebanyak 15,5 juta atau sekitar 34,9% remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Secara global, depresi dan kecemasan kini termasuk lima penyebab disabilitas tertinggi pada remaja, dengan bunuh diri masih berada di posisi kedua penyebab kematian usia 15–19 tahun. Yang juga mengkhawatirkan, 45% dari anak muda di Indonesia pernah mengalami perundungan siber

Angka-angka di atas menjadi pengingat serius akan bahaya dunia maya yang sering tidak disadari orang tua.

Pengasuhan Digital Bukan Soal Melarang

PP TUNAS telah mewajibkan platform berisiko tinggi, termasuk TikTok, YouTube, Instagram, hingga Roblox, membatasi akses pengguna di bawah 16 tahun. Regulasi pemerintah penting, tetapi tidak cukup. Yang paling menentukan tetap kualitas hubungan antara orang tua dan anak.

Pengasuhan digital yang sehat bukan diukur dari seberapa ketat pembatasan gawai, melainkan dari kehadiran orang tua secara emosional. Langkah sederhana seperti menetapkan waktu bebas gawai saat makan bersama dapat membantu membangun kembali ruang percakapan keluarga. Keteladanan menjadi kunci, dan orang tua juga harus terus belajar dan memperbarui kapasitas diri.

Keluarga Tetap Menjadi Fondasi Utama

Pada akhirnya, keluarga tetap menjadi tempat pertama manusia belajar dicintai, memahami empati, mengelola konflik, dan membangun hubungan yang sehat. Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan adalah bagaimana manusia menggunakannya.

Yang dipertaruhkan bukan hanya kesehatan mental anak, tetapi juga kualitas hubungan manusia yang akan mereka bawa sepanjang hidup.

Penulis: Dania Ciptadi

Editor: Astrid Prahitaningtyas

Artikel terkait:

Share :

Related articles