Capability Gap: Ketika AI Melaju Lebih Cepat daripada Kemampuan Siswa

Thoughtful Study by the AI Learning Board

Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan AI bergerak dengan kecepatan yang luar biasa. Kemampuan AI berkembang dari waktu ke waktu, sementara penggunaannya semakin masuk ke dalam kehidupan sehari-hari, dunia kerja, dan pendidikan. ChatGPT menjadi salah satu gambaran tentang cepatnya perubahan tersebut. Sekitar dua bulan setelah diluncurkan pada November 2022, jumlah pengguna aktif bulanannya diperkirakan telah mencapai 100 juta. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 300 juta pada Desember 2024 dan 400 juta pada Februari 2025.

Pertumbuhan pengguna hanyalah satu bagian dari cerita. Kemampuan model AI juga terus berkembang. Perubahan ini memberi kita satu gambaran penting. Anak-anak yang sedang tumbuh hari ini akan memasuki dunia yang kemampuan teknologinya terus berkembang. Maka, ada satu hal yang perlu kita lihat dengan lebih serius. Apakah kemampuan yang sedang dibangun anak-anak kita berkembang sejalan dengan dunia yang sedang mereka masuki?

Mengenali Capability Gap

Capability gap dapat dipahami sebagai jarak antara kemampuan yang dibutuhkan dalam suatu lingkungan dan kemampuan yang sedang dimiliki atau dibangun seseorang. Dalam konteks AI, jarak ini semakin penting karena teknologi berkembang cepat.

Bridging the AI Gap: Validating Student Preference for Dialogic, Co-Agency, and Ethical Learning in Indonesia merupakan studi terhadap 827 siswa kelas 11 dan 12 dari 19 provinsi menunjukkan preferensi yang cukup kuat terhadap pembelajaran yang menekankan dialog, agency, keterhubungan dengan komunitas, bukti belajar yang autentik, dan penggunaan AI yang etis, dengan skor rata-rata 5,22 dari 7.

Namun, studi tersebut mengukur preferensi, bukan kemampuan aktual. Karena itu, temuan ini belum menunjukkan sejauh mana kemampuan tersebut telah berkembang pada siswa Indonesia. Justru di sinilah pentingnya mengenali capability gap.

AI Mengubah Nilai dari Apa yang Perlu Dipelajari

Ketika AI semakin mampu menangani tugas kognitif rutin, nilai dari proses belajar ikut bergeser. Penelitian tersebut menempatkan dialog, learner agency, ethical judgment, dan real-world problem-solving sebagai kemampuan yang semakin penting dalam lingkungan pendidikan yang dipengaruhi AI. Kemampuan seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan kemampuan belajar berkelanjutan juga semakin mendapat perhatian dalam literatur tentang pendidikan di era AI.

Ini memberi kita cara pandang yang lebih luas tentang kesiapan anak. Kesiapan bukan hanya tentang apakah seorang anak dapat menggunakan AI. Yang lebih penting adalah kemampuan yang mereka bangun ketika mereka belajar bersama teknologi tersebut.

Apakah mereka mampu berdialog dan menjelaskan pemikirannya? Apakah mereka dapat menilai informasi dan membuat keputusan? Apakah mereka dapat menghubungkan pengetahuan dengan persoalan nyata? Apakah mereka dapat menciptakan sesuatu yang menunjukkan apa yang benar-benar mereka pahami?

Kemampuan-kemampuan tersebut menjadi semakin relevan ketika AI terus berkembang.

Capability Gap Tidak Sama di Setiap Tempat

Indonesia memiliki kondisi pendidikan yang sangat beragam. Studi tersebut menemukan perbedaan kecil antara wilayah Barat dan Timur dalam preferensi terhadap pendekatan pembelajaran yang diteliti. Perbedaan Barat dan Timur signifikan secara statistik, sementara variasi lainnya cenderung kecil.

Namun, penelitian ini juga menunjukkan bahwa sebagian besar variasi berada pada tingkat siswa, bukan perbedaan antarprovinsi. Nilai ICC sekitar 0,03 menunjukkan bahwa variasi antarsiswa jauh lebih besar daripada variasi pada tingkat provinsi. Temuan ini mengingatkan kita bahwa capability gap tidak dapat dilihat hanya melalui kategori wilayah atau jenis sekolah.

Pengalaman belajar yang dialami seorang anak setiap hari juga memiliki peran penting. Apa yang terjadi di kelas, bagaimana guru memfasilitasi pembelajaran, dan seberapa besar ruang yang diberikan kepada siswa untuk berpikir serta mengambil peran dalam proses belajar ikut membentuk kemampuan yang mereka bawa ke masa depan.

Melihat Arah Pendidikan dengan Lebih Jernih

AI akan terus berkembang, dan anak-anak kita akan tumbuh di tengah perubahan tersebut. Karena itu, mengenali capability gap menjadi penting agar kita dapat memahami kemampuan yang semakin dibutuhkan serta sejauh mana pengalaman belajar memberi ruang untuk mengembangkannya.

Studi terhadap siswa Indonesia menunjukkan preferensi yang cukup kuat terhadap pembelajaran yang dialogis, memberi ruang bagi agency, terhubung dengan kehidupan nyata, menggunakan bukti belajar yang autentik, dan memperhatikan penggunaan AI yang etis. Temuan ini belum menggambarkan kemampuan aktual siswa, tetapi memberi sinyal penting tentang arah pengalaman belajar yang mereka anggap bernilai. Karena itu, kita perlu melihat pendidikan dengan lebih jernih dan memahami kemampuan apa yang perlu terus berkembang ketika AI terus bergerak.

Percakapan tentang capability gap ini perlu terus dibawa ke ruang yang lebih luas. Di Indonesia Future of Learning Summit 2026, kita akan melihat lebih dekat bagaimana AI mengubah dunia yang sedang dimasuki anak-anak kita, kemampuan yang semakin penting, dan arah yang perlu diambil pendidikan. Mari melihat realitasnya dengan lebih jernih dan mulai dari pertanyaan yang paling mendasar tentang apa yang benar-benar dibutuhkan anak-anak kita.

Penulis: Dania Ciptadi

Editor: Astrid Prahitaningtyas

Artikel terkait:

Share :

Related articles