Intentional AI: Pertanyaan Penting yang Perlu Dijawab Sekolah Sebelum Mengadopsi AI

Ketika sebuah sekolah menyatakan bahwa mereka kini menggunakan AI (Artificial Intelligence) dalam proses pembelajaran, respons yang paling umum adalah kekaguman. Namun ada pertanyaan yang jarang diajukan:  mengapa mereka melakukannya?

Bukan meragukan niat baik siapa pun, tetapi pertanyaan di atas adalah yang paling mendasar dalam transformasi pendidikan. Namun, sayangnya, justru yang paling sering terlewat.

Di seluruh dunia, lembaga pendidikan bergegas mengadopsi AI. Menurut laporan Microsoft tahun 2025,  sebanyak 86% organisasi pendidikan kini menggunakan AI generatif, menjadikannya sektor dengan tingkat adopsi tertinggi dibandingkan sektor lainnya. Indonesia pun tidak ketinggalan. Mulai tahun ajaran 2025/2026, Kemendikdasmen secara resmi menetapkan Pembelajaran Mendalam, Koding, dan Kecerdasan Artifisial (PM dan KKA) sebagai mata pelajaran pilihan. Pemerintah bahkan memperkuat langkah ini dengan penerbitan SKB Tujuh Menteri pada 12 Maret 2026, yang mengatur pedoman pemanfaatan teknologi digital dan AI di seluruh jalur dan jenjang pendidikan.

Niat yang Mendahului Teknologi

AI yang disertai niat yang jelas (intentional AI) memiliki wajah yang sangat berbeda. Teknologi ini hadir untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan sekadar menggantikan metode lama dengan antarmuka baru. AI hadir untuk membantu guru, membebaskan mereka dari tugas administratif yang berulang agar lebih banyak waktu tersedia untuk mendampingi siswa secara personal.

UNESCO dalam laporannya tahun 2025 menyebutkan bahwa AI memiliki potensi nyata untuk memperkuat asesmen formatif, memberikan umpan balik berkualitas dalam skala besar, dan memungkinkan guru fokus pada hubungan manusiawi dalam pembelajaran. Niat yang jelas juga berarti AI digunakan untuk memperluas aksesibilitas, demi menjangkau siswa di daerah terpencil yang selama ini kekurangan sumber daya pengajaran. AI dimanfaatkan untuk mendorong kreativitas, memperkuat kemampuan berpikir kritis, serta meningkatkan efisiensi operasional yang pada akhirnya menguntungkan proses belajar mengajar.

Sebaliknya, tanpa niat itu, AI hanya akan menjadi lapisan mahal di atas masalah yang belum terselesaikan.

Belum Terlambat untuk Mendefinisikan Ulang Tujuan

Lalu, bagaimana dengan sekolah yang telanjur mengadopsi AI hanya agar terlihat modern, mengikuti tren, atau karena tekanan situasi?

Kabar baiknya adalah, perjalanan ini masih bisa diarahkan ulang. Menggunakan AI demi terlihat modern bukanlah kesalahan yang tidak dapat diperbaiki, tetapi sebuah titik tolak berharga untuk refleksi yang lebih bermakna. Anda belum terlambat.

Langkah pertama adalah mengajukan pertanyaan jujur kepada seluruh ekosistem sekolah: Mengapa kami menggunakan AI? Kompetensi apa yang ingin kami perkuat dalam diri siswa? Beban apa yang ingin kami kurangi bagi guru? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan inilah yang harus menjadi kompas setiap keputusan implementasi.

SKB 7 Menteri secara tegas menyatakan bahwa penggunaan AI di satuan pendidikan harus berlandaskan prinsip yang tidak bisa dikompromikan: teknologi harus aman, inklusif, dan beretika. Lebih jauh, dokumen itu menekankan bahwa “kualitas pemanfaatan teknologi tidak ditentukan oleh kecanggihannya, tetapi oleh kualitas manusia yang menggunakannya.” Hal ini bukan retorika kebijakan semata, tetapi sebuah pengakuan bahwa teknologi secanggih apa pun hanyalah alat yang tidak akan berdampak di tangan mereka yang tidak paham tujuan utamanya.

AI yang Intensional adalah Investasi pada Manusia

Pada akhirnya, intentional AI bukan soal memilih platform terbaru atau mengikuti tren yang sedang ramai diperbincangkan. Konsep ini adalah komitmen bahwa teknologi selalu diabdikan untuk memperkuat kapasitas manusia, seperti kreativitas, empati, nalar kritis, dan kemampuan bekerja sama yang tidak bisa direplikasi oleh algoritma mana pun.

Percakapan tentang bagaimana AI dapat diimplementasikan secara bermakna untuk memperkuat kemampuan-kemampuan yang paling manusiawi ini akan dikupas tuntas di Indonesia Future of Learning Summit (IFLS) 2026. Forum ini mempertemukan para pendidik, pembuat kebijakan, inovator, dan pemimpin industri untuk bersama-sama menjawab pertanyaan paling penting dalam transformasi pendidikan kita.

Bertema “AI-DUCATED: Truly Human in the Age of AI”, IFLS 2026 mengajak kita mendefinisikan kembali makna menjadi siap menghadapi masa depan. Di tengah pesatnya perkembangan AI, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan individu yang mampu menggunakan teknologi, tetapi juga manusia yang berpikir kritis, kreatif, tangguh, adaptif, serta mampu memimpin dengan empati.

IFLS 2026 akan mengeksplorasi bagaimana integrasi AI yang dilakukan secara bijak dan terarah dapat memperkuat kemampuan khas manusia yang tidak dapat digantikan oleh mesin. Mulai langkah awal Anda dengan menjadi bagian dari IFLS 2026, dan mari bersama-sama membangun arah baru bagi masa depan sekolah Anda.

Penulis: Astrid Prahitaningtyas

Artikel terkait:

Share :

Related articles