Ketika AI Semakin Canggih, Apa yang Harus Tetap Manusiawi dalam Pendidikan?

Seberapa jauh pendidikan harus berubah ketika AI terus berkembang?

Pertanyaan ini mudah membawa kita pada teknologi. Tools apa yang perlu dikuasai siswa? Bagaimana AI digunakan dalam pembelajaran? Apa yang perlu dilakukan sekolah agar tidak tertinggal?

Namun, percakapan sepanjang Indonesia Future of Learning Summit 2026 justru berulang kali kembali pada manusia. Bukan karena kemampuan AI dianggap kecil. Justru sebaliknya.

Ketika Kemampuan AI Terus Bergerak

Dalam beberapa tahun terakhir, percakapan tentang AI dalam pendidikan berubah dengan sangat cepat.

IFLS merasakan perubahan itu sendiri. Pada 2023, pembicaraan masih berpusat pada potensi AI untuk pembelajaran. Pada 2024, percakapan bergerak menuju integrasi AI. Setahun kemudian, muncul gagasan AI-DUCATED, sebuah kerangka berpikir yang tidak berhenti pada mengetahui tools dan cara menggunakannya, tetapi memahami tujuan penggunaannya.

Pada 2026, pertanyaannya bergerak lebih jauh lagi. AI-DUCATED: Truly Human in the Age of AI mengajak kita bertanya apa yang perlu tetap tumbuh dalam diri manusia ketika teknologi mampu melakukan semakin banyak hal.

Dan kemampuan itu memang berkembang cepat.

Dalam sesinya, Steven Halim memperlihatkan bagaimana model AI terbaru telah mampu menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan keahlian dan waktu manusia dalam jumlah besar. Bahkan dalam bidang yang telah ia tekuni bertahun-tahun, perubahan dalam waktu singkat cukup membuatnya mengakui bahwa apa yang ia lihat terasa menakutkan.

Jika kemampuan teknologi terus bergerak secepat itu, pendidikan tidak mungkin menjadikan kemampuan sebuah tool sebagai garis akhir. Tools akan berubah lagi.

Pertanyaan yang lebih bertahan lama adalah apa yang perlu mampu dilakukan manusia bersama teknologi tersebut.

Bukan Menjadi Lebih Seperti Mesin

Menariknya, percakapan tentang hal itu tidak hanya muncul dalam satu sesi.

Rasa ingin tahu, kemampuan menganalisis, berpikir kritis, dan beradaptasi muncul dari pembicara yang berbeda. Steven bahkan mencatat kemiripan antara kemampuan yang ia angkat dan yang sebelumnya dibicarakan Ina Liem, meskipun keduanya tidak pernah menyelaraskan materi mereka.

Di sesi berikutnya, percakapan bergerak ke wilayah yang lebih personal.

Grace Tioso membicarakan judgment. Ia menggunakan AI untuk banyak hal, tetapi juga memilih bidang tertentu yang tidak ingin ia serahkan kepada AI. Menurutnya, manusia perlu mampu menilai bukan hanya bagaimana menggunakan AI, tetapi juga seberapa banyak AI diperlukan dan apakah pada situasi tertentu AI diperlukan sama sekali.

Kemudian ia mengatakan sesuatu yang merangkum kegelisahan itu:

“When we raise our children, our students, let us not forget that we raise a human being. I hope that we don’t train them to be more like machines. We need to train them to be more like humans.” — Grace Tioso

Di situlah tantangan pendidikan di era AI menjadi lebih jelas. AI semakin canggih. Apakah pendidikan juga semakin baik dalam mengembangkan manusia?

Ketika Pertanyaannya Berubah, Respons Sekolah Juga Berubah

Pertanyaan itu tidak berarti sekolah harus menjauh dari teknologi. Justru, sekolah perlu semakin jelas tentang alasan di balik setiap keputusan untuk menggunakannya.

Pengalaman Bina Bangsa School yang dibagikan Alvin Soliman Miclat di IFLS menunjukkan bagaimana prinsip tersebut dapat diterjemahkan ke dalam praktik. Alih-alih memulai dari pertanyaan “AI apa yang harus kita gunakan?”, mereka memulai dari kebutuhan yang ingin dijawab. Teknologi datang setelah tujuan menjadi jelas. Prinsip yang digunakan sederhana, yaitu purpose before platform.

Namun, memilih teknologi hanyalah sebagian dari proses. Bina Bangsa School juga menempatkan kesiapan orang-orang yang akan menggunakannya sebagai bagian penting dari implementasi. Guru diperkenalkan pada teknologi, diberi ruang untuk mencoba, dan didampingi membangun kepercayaan diri sebelum penerapannya diperluas. Alvin menyebut prinsip ini people before platform.

Pendekatan tersebut juga tidak berhenti setelah sebuah teknologi diterapkan. Sekolah membangun panduan penggunaan AI, melihat bagaimana implementasi berjalan, lalu melakukan penyesuaian berdasarkan apa yang mereka temukan. Dalam salah satu contoh, Alvin menunjukkan bahwa pendekatan yang awalnya dirancang sekolah bahkan perlu diubah setelah mereka melihat bagaimana AI benar-benar digunakan dalam pembelajaran.

Di sini, intentional AI menjadi sesuatu yang sangat praktis. Bukan soal menggunakan AI sebanyak mungkin atau secepat mungkin, tetapi membuat serangkaian keputusan tentang untuk apa teknologi digunakan, siapa yang perlu dipersiapkan, dan apa yang perlu dievaluasi sepanjang prosesnya.

Kembali pada Tujuan Pendidikan

Mungkin inilah hal terpenting yang IFLS 2026 ungkap tentang masa depan pembelajaran. Kita tidak tahu seberapa mampu AI lima atau sepuluh tahun lagi. Bahkan kemampuan yang hari ini terasa luar biasa mungkin segera menjadi biasa. Namun, perubahan teknologi bukan satu-satunya persoalan yang perlu dijawab pendidikan.

Dalam sesi penutup IFLS, Anindito Aditomo mengajak kita kembali pada pertanyaan yang lebih mendasar, yaitu untuk apa kita membutuhkan pendidikan?

Baginya, memikirkan kembali tujuan pendidikan berarti melihat kemampuan apa yang perlu dimiliki siswa untuk menghadapi persoalan bersama sebagai manusia. Pendidikan tidak cukup hanya membantu mereka menjadi lebih pintar atau lebih siap menghadapi dunia kerja.

Pendidikan juga perlu memberi mereka kemampuan untuk ikut membentuk masa depan yang akan mereka jalani.

Di sinilah peran pendidikan menjadi lebih besar daripada sekadar merespons perkembangan AI. Tantangan bagi pendidik bukan untuk terus mencemaskan setiap perkembangan teknologi terbaru, tetapi untuk memikirkan kembali pengalaman belajar yang memungkinkan siswa tumbuh sebagai manusia seutuhnya. Anindito menempatkan siswa bukan sekadar sebagai orang yang harus dipersiapkan menghadapi masa depan, tetapi sebagai co-creators of their future, dengan harapan bahwa masa depan tersebut dapat menjadi lebih adil dan lebih berbelas kasih.

Maka, masa depan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh apa yang mampu dilakukan teknologi, tetapi juga oleh apa yang kita pilih untuk terus tumbuhkan dalam diri manusia.

Untuk terus ingin tahu ketika jawaban semakin mudah diperoleh. Untuk berpikir ketika mesin dapat menghasilkan jawaban dalam hitungan detik. Untuk menilai ketika pilihan semakin banyak. Untuk beradaptasi ketika dunia berubah. Dan untuk tetap memiliki tanggung jawab atas keputusan yang mereka ambil.

Masa depan pembelajaran akan melibatkan AI. Hampir tidak ada keraguan tentang itu. Namun, justru ketika mesin mampu melakukan semakin banyak hal, kita perlu semakin jelas tentang manusia seperti apa yang ingin kita kembangkan.

Penulis: Astrid Prahitaningtyas

Artikel terkait:

Share :