Perjalanan Transformasi Pendidikan di Indonesia

teknologi pendidikan

Transformasi pendidikan terus berlangsung. Dari papan tulis ke AI. Namun, sejauh mana teknologi benar-benar membawa perubahan? Mewujudkan pemerataan akses atau justru memperlebar kesenjangan?

Setiap 10 Agustus, Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HKTN). Di tengah gegap gempita kemajuan teknologi, HKTN mengajak kita untuk merenungkan perjalanan panjang transformasi dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Pendidikan di Indonesia telah mengalami perubahan signifikan dalam beberapa dekade terakhir, terutama dengan masuknya teknologi digital. Transformasi dari metode tradisional ke digital ini membawa dampak besar pada cara pengajaran dan pembelajaran berlangsung di seluruh negeri.

Era 1980-1990an, teacher-centered mendominasi ruang-ruang kelas. Guru menjadi sumber utama informasi, sementara siswa lebih banyak berperan sebagai penerima pasif. Keterbatasan sumber belajar, seperti buku teks yang sering kali usang, serta kurangnya akses ke informasi terbaru, menjadi tantangan utama dalam sistem pendidikan tradisional ini. Belajar mengajar masih berpusat pada metode ceramah (lecturing method) dengan berbagai kelemahannya, seperti siswa menjadi pasif dan potensi kebosanan. Teknologi seperti komputer sudah mulai masuk ke sekolah, tetapi penggunaannya lebih banyak untuk keperluan administratif ketimbang pedagogis.

Kita harus akui bahwa Pandemi COVID-19 telah menjadi katalisator yang signifikan dalam adopsi teknologi pendidikan. Penutupan sekolah dan pergeseran mendadak ke pembelajaran daring menuntut institusi pendidikan untuk beradaptasi dengan cepat. Dalam waktu singkat, seluruh sistem pendidikan nasional “dipaksa” berpindah ke ruang digital. Zoom, Google Meet, WhatsApp, YouTube—semua menjadi ruang kelas darurat. Tidak hanya siswa dan guru, orang tua pun mendadak berperan aktif dalam proses belajar anak. Berbagai platform hadir sebagai solusi, seperti Google Classroom dan Moodle hingga aplikasi seperti Ruangguru, Brainly, dan Zenius.

Namun, ketimpangan akses internet dan keterampilan digital menjadi tantangan utama sampai saat ini. Mengutip Kompas, 86% sekolah di Indonesia belum memiliki akses fixed broadband, artinya meskipun perangkat dan koneksi menjadi kebutuhan dasar belajar daring, banyak sekolah masih belum memiliki akses internet yang layak.

Selain itu, ketimpangan keterampilan digital guru juga menjadi tantangan. Banyak guru kesulitan mengelola platform digital, membuat konten interaktif, atau memfasilitasi pembelajaran jarak jauh secara efektif. Pelatihan digital yang sporadis dan belum merata membuat adaptasi tidak berjalan seimbang.

Secara global, posisi Indonesia dalam World Digital Competitiveness Ranking tahun 2024 masih di bawah rata-rata,  menempati peringkat ke-43 dari total 67 negara dengan nilai 61,36. Sementara negara tetangga, Singapura, menempati peringkat pertama dengan nilai 100. Hasil pengukuran yang dilakukan oleh Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) Komdigi mencatat nilai literasi digital sebesar 43,34 untuk level nasional. Padahal, Komdigi mencatat lebih dari 365 juta perangkat gawai yang aktif, menunjukkan bahwa banyak individu memiliki lebih dari satu perangkat digital. Sementara itu, pengguna media sosial mencapai 143 juta, dan pengguna internet menyentuh angka 212 juta orang atau 74,6% dari populasi.

Hal ini menunjukkan bahwa transformasi teknologi tidak hanya soal perangkat, tetapi juga kesiapan manusia dalam menggunakannya. Di sinilah peran guru mulai bergeser. Guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan fasilitator pembelajaran.

Tahun 2023 menjadi awal babak baru dengan hadirnya teknologi AI yang memasuki semua bidang kehidupan, termasuk pendidikan. Aplikasi seperti Grammarly, Duolingo Max, ChatGPT dalam latihan esai atau Khanmigo dari Khan Academy, memperkenalkan cara baru belajar yang lebih personal, adaptif, dan efisien. Namun di balik peluang, muncul juga tantangan baru: etika penggunaan AI, ancaman plagiarisme, disinformasi, dan disrupsi peran guru. Di sinilah pentingnya kehadiran guru yang melek teknologi, beretika, dan mampu menjadi navigator dalam lautan informasi digital.

Transformasi digital bukan hanya soal alat, tetapi soal manusia. Tidak ada teknologi yang bisa menggantikan kepekaan, kasih sayang, dan kebijaksanaan seorang guru. Maka dari itu, perjalanan dari kapur ke cloud sejatinya adalah perjalanan keberanian para guru untuk terus belajar dan berubah.

Komunitas pendidik digital seperti Komunitas Guru Belajar, Ikatan Guru Indonesia dan Komunitas Guru Digital Indonesia menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang tangguh, reflektif, dan kolaboratif.

Perjalanan teknologi pendidikan di Indonesia masih panjang. Kita telah melalui fase adaptasi darurat, kini saatnya memasuki fase transformasi yang inklusif, adil, dan berkelanjutan.

Di Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ini, peringatan dan perayaan bukan hanya soal perangkat lunak ataupun perangkat keras teknologi, tetapi mari kita rayakan kehadiran manusia-manusia gigih di baliknya, yang mau dan mampu menggunakan teknologi dengan baik, benar, dan bijak. Dan sebagai pendidik, mari kita selebrasi para guru, siswa, dan komunitas pendidikan yang tak kenal lelah menyuarakan harapan melalui teknologi.

Ayo kita terus belajar, berbagi, dan berjejaring demi masa depan pendidikan Indonesia yang lebih adil, adaptif, inklusif, dan berdaya, demi masa depan yang berkelanjutan.

Penulis: Yanti Damayanti

Editor: Astrid Prahitaningtyas

Artikel terkait:

Share :

Related articles