Menjadi Guru Reflektif dan Terus Belajar

“Siswa jaman sekarang tidak mau mendengarkan guru, berbeda dengan siswa jaman dahulu” keluh seorang guru. 

Apakah sebagai guru, anda pernah mendengar atau mengalami sendiri hal tersebut? Dalam menghadapi siswa, timbul beragam reaksi dari seorang guru:

  1. berupaya agar siswa mau mendengarkan dirinya, dengan melakukan tindak kekerasan seperti membentak hingga memukul.
  2. secara terus menerus memikirkan, mengevaluasi dan merencanakan apa yang telah, sedang, dan akan dikerjakannya di dalam kelas (Bartlett, 1990). Inilah yang disebut Guru Reflektif / Reflective Teacher.

Manakah yang anda pilih dan telah anda lakukan? Anda-kah Reflective Teacher itu?

“Self-reflection is the school of wisdom.” – Baltasar Gracian

“Refleksi diri adalah tempat belajar bijaksana.” – Baltasar Gracian (seorang Filsuf)

Ada 4 elemen utama yang dapat Anda gunakan sebagai bahan refleksi untuk terus memperbaiki diri:

1.    Pertanyaan untuk siswa

  • Apakah pembelajaran hari ini menolongmu untuk memahami… dengan baik?
  • Mengapa pembelajaran hari ini kamu kategorikan sukses atau tidak sukses?
  • Jika kita mengulangi pembelajaran hari ini, apa hal yang perlu diubah supaya kamu lebih paham tentang…?

2.    Pertanyaan tentang proses pembelajaran (termasuk penilaian)

  • Mengapa saya memilih metode ini? Apakah ada siswa yang ‘dirugikan’ dengan metode ini? Mengapa?
  • Apa bukti bahwa kelas saya berhasil hari ini?
  • Apakah metode penilaian saya membantu siswa memperoleh pemahaman mendalam? Atau hanya menghafal saja?

3.    Pertanyaan tentang manajemen kelas

  • Apakah saya memberi kesempatan yang sama untuk siswa saya di kelas hari ini?
  • Apakah sikap saya hari ini membantu siswa belajar?
  • Apakah ada hal yang harus saya klarifikasi kepada siswa sebelum/sesudah kelas?

4.    Pertanyaan untuk rekan sejawat

  • Aspek apa yang perlu saya/kita kembangkan untuk memperbaiki KBM saya?
  • Bagaimana pengalaman anda menggunakan metode… dalam mengajar…?
  • Ada ide baru apa saja yang bisa kita kembangkan?
  • Pelatihan apa yang kita perlukan? 

Yang diperlukan seorang Reflective Teacher

Untuk dapat menjadi seorang Reflective Teacher, guru memerlukan Komunitas Belajar Profesional (Professional Learning Community). PLC merupakan kelompok pendidik yang berkomitmen untuk bekerja secara kolaboratif dalam siklus penyelidikan kolektif dan penelitian tindakan yang berulang secara berkelanjutan untuk mencapai hasil yang lebih baik bagi siswa yang mereka layani.

Ilustrasi diambil dari webinar “Menjadi Guru Reflektif dan Terus Belajar” oleh Eirene Christa dan Wiliam Sandy

3 IDE UTAMA PLC

1.    Berfokus pada pembelajaran

Empat pertanyaan penting:

  • Apa yang kita ingin siswa pelajari
  • Bagaimana kita mengetahui apakah siswa mempelajari hal-hal tersebut atau tidak? Bagaimana memonitor pembelajaran siswa?
  • Apa yang kita lakukan jika ada siswa yang tidak belajar? Proses sistematis seperti apa yang dapat kita siapkan untuk mendukung siswa-siswa yang mengalami kesulitan belajar?
  • Apa yang akan kita lakukan jika siswa sudah mempelajari apa yang perlu mereka pelajari?

2.    Membangun budaya kolaborasi

Tidak ada sekolah yang bisa menolong semua anak didik untuk berprestasi bila guru-gurunya tidak berkolaborasi.

Ciri sekolah yang bertumbuh:

Guru diberi waktu dan dukungan untuk bekerjasama, mengklarifikasi pembelajaran siswa yang esensial, mengembangkan common assessment, menganalisa bukti pembelajaran siswa, dan menggunakan bukti tersebut untuk saling belajar.

3.    Berfokus pada hasil

Mengukur efektivitas berdasarkan hasil di lapangan bukan berdasarkan intensi

PLC dibangun atas asumsi bahwa kunci untuk meningkatkan pembelajaran siswa terletak pada proses belajar guru yang berlangsung terus menerus dan menjadi bagian dari tugas mengajar mereka (diadaptasi dari Learning by doing).

Webinar selengkapnya tonton di sini.

Penulis: Dyahni Ardrawersthi

Share :

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp