Liputan Langsung Festival Komunitas belajar.id 2022 “Bangkit Bersama belajar.id” 26 Oktober 2022

20:08 Penutupan hari kedua Festival Komunitas belajar.id

Dengan demikian hari kedua Festival Komunitas belajar.id selesai. Banyak sekali wawasan baru yang didapat di hari kedua. Dimulai dengan pengalaman menyaksikan anak-anak usia SD berkolaborasi mempraktikkan penggunaan Google Sites sebagai proyek bersama untuk membuat situs web sekolah. Dilanjutkan dengan penggunaan Google Slides untuk pembelajaran PAUD di mana penggunaannya sendiri masih perlu banyak eksplorasi mengingat PAUD adalah jenjang yang paling akhir mengaktifkan dan menggunakan Akun belajar.id.

Mengikuti Festival secara daring memberikan pengalaman yang luar biasa. Kita dapat merasakan bagaimana peserta dari berbagai daerah di seluruh Indonesia hadir dan menjadi bagian Festival Komunitas belajar.id. Kita juga dapat merasakan semangat para pendidik untuk saling terkoneksi dan berbagi pengalaman dan wawasannya.

Hari ketiga Festival esok juga menjanjikan energi dan semangat yang sama dan tim di balik Liputan Langsung ini menantikan sesi-sesi yang tidak kalah seru dari sesi hari ini.

Anda masih dapat mengikuti sesi esok hari!

Jadwal acara: https://bit.ly/jadwalfestivalbelajarid

Subscribe Google Calendar: https://bit.ly/subfestivalbelajarid

Jika Bapak dan Ibu tidak menyaksikan livestreaming bersama kami saat ini, Acara Pembukaan Festival Komunitas belajar.id ini tetap dapat disaksikan melalui tautan: http://bit.ly/feskombelajarid

20:08 Meet and Greet selesai.

20:05 Christophorus Ardi Nugraha: Anak-anak hanya perlu mengisi kode. Tidak perlu login.

20:04 Siti Nurjanah: Dalam Pear Deck jika guru berkolaborasi dengan anak, dalam artian anak diminta untuk menggambar, apakah anak harus login?

19:58 Christophorus Ardi Nugraha: Pada Akun belajar.id ada add-on Pear Deck yang dapat diunduh terlebih dahulu. Dalam Pear Deck sendiri ada fitur basic dan fitur berbayar. Fitur drawing yang tadi digunakan adalah fitur berbayar. Untuk cara penggunaannya, klik aktivitas draw > start lesson > pilih student-paced/instructor-paced (untuk PAUD baiknya instructor-paced) > bagikan tautan ke anak atau orang tua > masukkan kode > aktivitas dimulai. Apabila aktivitas sudah selesai, klik aktivitas diakhiri.

19:57 Salma Julia: Bagaimana cara penggunaan Pear Deck?

19:56 Ifina Trimuliana: Betul. Media ajar dan variasi aktivitas harus memperhatikan panca indra anak, agar menjadi daya tarik bagi anak.

19:55 Muslikan 24: Media ajar harus perhatikan juga kompetitor game lainnya.

19:53 Ifina Trimuliana: Menggunakan Google Slides dengan ponsel erat kaitannya dengan dengan motorik halus anak. Sehingga akan sulit dilakukan dan tidak dianjurkan. Jika menggunakan laptop pun, akan lebih maksimal jika dibantu dengan penggunaan mouse atau layar sentuh.

19:52 Lilis Munawaroh: Google Slides jika dioperasikan dengan ponsel kurang disarankan karena layar yang  kecil. Minimal alat bantu pengoperasian dengan tablet.

19:49 Ifina Trimuliana: Menjawab perihal konsentrasi, anak usia dini itu hanya mampu berkonsentrasi maksimal selama 5 menit. Itu adalah kondisi di mana anak sedang sangat fokus, 15 menit jika pada orang dewasa. Tantangan bagi guru adalah bagaimana membuat pembelajaran yang menarik. Variasi apa yang bisa dilakukan agar anak tidak jenuh. Karena itu, buatlah pembelajaran dengan permainan bermakna. Tidak disarankan pembelajaran dengan video saja.

19:46 Lilis Munawaroh: Praktik menggunakan Google Slides maksimal hanya 15 menit karena dipadukan dengan permainan klasik. Biasanya, pembagian pembelajaran di PAUD adalah pembuka, inti, dan penutup. Dalam kelas saya, kegiatan digital ini dilakukan dalam bagian kegiatan inti setelah istirahat. Kelas dibagi dalam kelompok-kelompok yang berisi 3-4 orang. Penggunaan Google Slides secara efektif hanya 10 menit, sedangkan 5 menit untuk menjelaskan cara bermain atau instruksi,  atau cara membuka laptop dengan baik.

19:45 Muslikan 24: Berapa lama durasi praktik menggunakan Google Slides agar konsentrasi anak masih terjaga? Apakah ada kendala jika mengoperasikan Google Slides menggunakan ponsel?

19:44 Christophorus Ardi Nugraha: Elemen gambar lainnya dimasukkan terlebih dahulu ke dalam template atau Theme Builder.

19:44 Siti Nurjanah: Bagaimana cara agar hurufnya saja yang bisa digeser, sedangkan elemen gambar lainnya tidak?

19:42 Christophorus Ardi Nugraha: Cara membuat puzzle dalam Google Slides adalah pilih gambar yang akan dibuat menjadi puzzle, salin sesuai banyaknya potongan yang diinginkan lalu (dalam contoh ini) crop menjadi empat bagian yang berbeda.

19:41 Siti Nurjanah: Apakah bisa diceritakan ulang caranya membuat puzzle di Google Slides?

19:38 Ruang dalam Google Meet sudah dibuka dan sudah ada 19 peserta yang bergabung dan siap bertanya lebih dalam mengenai penggunaan Google Slides untuk media pembelajaran PAUD. Dalam sesi Meet & Greet ini, peserta dapat berinteraksi secara langsung dengan Lilis Munawaroh, Guru TK Dewi Sartika dan Content Writer PAUDPEDIA Direktorat PAUD Kemdikbudristek RI, Ifina Trimuliana, dipandu oleh Christophorus Ardi Nugraha dari REFO.

19:10 Banyak aktivitas PAUD yang bisa dilakukan dengan Google Slide. Melalui sesi ini penonton diajak untuk melihat bagaimana Lilis Munawaroh memperkenalkan gajah kepada anak didiknya, baik dengan gambar maupun video lagu, mengenal bagian tubuh gajah, belajar berhitung, dan mengenal huruf sederhana, hingga bermain puzzle gajah. Semuanya itu dilakukan dengan satu tautan materi di Google Slides.

Penggunaan Google Slides untuk PAUD bukan ditujukan agar anak berinteraksi secara mandiri, namun menjadi aktivitas belajar di rumah bersama orang tua, atau jika di sekolah bersama guru.

Dalam pemaparannya, Narasumber juga berbagi tip agar gambar yang ada dalam Slides tidak dapat digeser, yaitu dengan memasukkan gambar yang ditujukan sebagai gambar latar ke dalam Theme Builder. Dengan demikian, pendidik dapat menentukan elemen gambar mana yang dapat berinteraksi dengan siswa untuk digunakan dalam permainan drag and drop.

Narasumber juga berbagi tip membuat puzzle digital, yang ternyata mudah sekali, yaitu dengan menyalin satu gambar, dan menggunakan fitur crop untuk membaginya menjadi bagian-bagian yang diinginkan. Sedikit catatan untuk para pemirsa, bahwa pembuatan puzzle ini harus disesuaikan dengan tingkat usia anak. Untuk anak usia TK penggunaan empat potongan puzzle sudah ideal.

Lalu Narasumber juga berbagi cara agar anak bisa mewarnai digital, menggunakan aplikasi Pear Deck yang terinstal di Google Slides. Namun menurut Ifina, akan lebih baik lagi jika anak didik diberikan kesempatan untuk melatih kreativitas dan imajinasi dengan menggambar gajah versi mereka sendiri, tidak terpaku pada satu bentuk dan warna.

Dalam sesi ini aktivitas di Pear Deck dibuka aksesnya kepada para pemirsa. Sehingga pemirsa dapat mencoba pengalaman menggunakan Pear Deck untuk menggambar.

18:37 Pembelajaran berbasis digital untuk anak PAUD yang masih aktif bergerak itu memang tidak mudah. Dalam pembelajaran berbasis teknologi, guru PAUD perlu mempertimbangkan durasi pembelajaran dengan pertimbangan kesehatan mata anak dan perkembangan fisiknya. Pertimbangan di sini lantas bukan melarang penggunaan teknologi, tapi menjadikan pembelajaran berbasis teknologi ini sebagai pembelajaran bermakna yang menarik bagi anak. Pembelajaran menggunakan Google Slides, bukan hanya menampilkan gambar, tapi juga menyajikan suara, animasi dan interaksi.

Ifina Trimuliana: Kita sebagai pendidik PAUD, termasuk juga orang tua tidak bisa menutup mata, zaman sekarang itu seperti apa sih. Sekarang memang zaman yang penuh dengan teknologi. Perkembangan teknologi ini ibarat gelombang tsunami yang kita tidak bisa menahannya. Artinya apa? Yang harus kita siapkan, yang harus kita lakukan bukannya menghindarkan anak kita dari paparan teknologi itu, tapi kita menyiapkan agar kehadiran teknologi ini membawa dampak positif seperti: bisa meningkatkan minat dan motivasi anak dalam aktivitas pembelajaran, memudahkan guru. Memudahkan untuk pembelajaran yang tidak bisa dijangkau seperti mengenalkan hewan buas atau tidak ada di sekitar anak. Kehadiran teknologi inilah yang nanti akan memudahkan dan membuat pembelajaran menjadi menarik, efektif dan efisien sehingga pembelajaran anak usia dini menjadi aktivitas bermain bermakna. Yang penting bapak dan ibu tahu tujuan (pembelajarannya) dan menempatkan segala sesuatu pada porsinya. Seimbangkan aktivitas fisik dan penggunaan teknologi.

Sedikit catatan untuk para guru PAUD dari sesi ini adalah pembelajaran itu berpedoman pada tujuan yang akan dicapai, sehingga penggunaan teknologi harus disesuaikan dengan karakteristik, potensi, gaya belajar dan minat anak yang belum tentu sama. Prinsip pertama pembelajaran berbasis teknologi adalah pembelajaran tetap harus berpusat pada anak dan kemas. Prinsip kedua pembelajaran PAUD adalah dengan bermain. Karena itu penggunaan teknologi dalam pembelajaran bisa dikemas dengan bentuk permainan.

18:30 Tantangan dan Serunya Menggunakan Google Slides untuk Pembelajaran PAUD

Narasumber malam ini adalah Lilis Munawaroh (Guru TK Dewi Sartika), dipandu oleh Ifina Trimuliana (Content writer PAUDPEDIA Direktorat PAUD Kemdikbudristek) dan Christophorus Ardi Nugraha (REFO).

Christophorus Ardi Nugraha, sebagai moderator, membuka sesi dengan penuh semangat, menyapa Narasumber dan semua pemirsa yang ada di seluruh kanal YouTube yang menyiarkan.

Namun sayang, hingga bagian tengah sesi ibu Lilis Munawaroh belum bisa bergabung karena ada kendala jaringan. Memang, inilah tantangannya mengadakan acara secara daring. Akan ada kemungkinan kendala jaringan seperti yang dialami oleh Ibu Lilis Munawaroh. Namun semoga tantangan ini bukan halangan, tapi menjadi pemicu semangat.Banyak masukan yang didapat dari sesi ini untuk pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran jenjang PAUD. Dengan Google Slides dan topik yang dipilih, guru bisa mengajak anak-anak mengenalkan hal yang tidak bisa dilihat setiap hari, bermain drag and drop, mengenal angka, bahkan menggunakan aplikasi lain untuk aktivitas anak PAUD dalam hal ini mewarnai.

18:19 Menuju sesi ketiga dalam rangkaian festival, kanal YouTube Televisi Edukasi, Direktorat Sekolah Dasar, Direktorat SMP, Direktorat SMA, Direktorat PMPK, PAUDPEDIA, dan seTARA Daring sudah bersiap menayangkan “Tantangan dan Serunya Menggunakan Google Slides untuk Pembelajaran PAUD” bersama dengan REFO.

Rasanya sesi jenjang PAUD ini adalah salah satu sesi yang ditunggu-tunggu, mengingat jenjang PAUD adalah yang jenjang yang terakhir “naik kereta” belajar.id. Inspirasi penggunaannya sangat dibutuhkan, terutama inspirasi pemanfaatannya dalam pembelajaran.

______________________________________________________________________________

16:36 Meet and Greet selesai.

16:29 Muslikan: Bu Tinur, apakah sudah membuat tutorial untuk pembuatan situs web menggunakan Google Sites, baik dalam format video atau PDF?

Tinur: Kalau tutorial, kami sempat membuat. Namun banyak sekali sahabat-sahabat pendidik yang sudah membuat tutorial. Contohnya kanal YouTube Aspal Edu.

Esther Chandra: REFO juga sudah membuat video mengenai Google Sites, bisa diakses di tautan https://bit.ly/karyasiswagooglesites dan https://bit.ly/portalpembelajarangooglesites

16:17 Muslikan: Apakah Google Meet dalam Akun belajar.id ini sudah bisa langsung disiarkan di YouTube?

Gusman Adi: Google Meet dalam Akun belajar.id maupun Google Workspace for Education Fundamentals belum dapat langsung livestreaming ke YouTube. Solusinya bisa menggunakan perangkat lunak pihak ketiga, seperti OBS atau Streamyard.

Muslikan: Kebetulan saya mengajar di PAUD/TK, dan siswa-siswa saya itu juga mendapatkan Akun belajar.id, itu fungsinya untuk apa?

Gusman Adi: Akun belajar.id yang didapat siswa-siswa PAUD/TK bisa dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi antara sekolah dengan orang tua murid. 

16:11 Beslon Samosir: Ini adalah situs web sekolah kami yang juga berbasis Google Sites https://sites.google.com/guru.smk.belajar.id/smkn1psiantar/

Pertanyaannya adalah bagaimana mempersingkat alamat situs web tersebut, sehingga gampang untuk diingat.

Gusman Adi: Untuk mempersingkat alamat situs web, yang paling mudah bisa menggunakan situs s.id atau bit.ly. Untuk Google Workspace milik pribadi, bukan dari Akun belajar.id, bisa melalui konsol admin.

16:06 Siti Nurjanah: Bagaimana cara Ibu Tinur mengorganisasi siswa-siswanya agar termotivasi dan berani tampil? Luar biasa sekali lho, Bu.

Tinur: Intinya sekuat apa keinginan kita untuk melatih anak-anak. Jangan pernah menyerah. Berikan mereka pancingan dengan karya-karya terbaik. Buatkan komunitas agar saling mendukung. Sediakan ruang dan waktu, tidak perlu lama durasinya, yang penting rutin. Mulai dengan hal-hal sederhana, dan selalu apresiasi karya mereka, meskipun masih sangat sederhana.

Umumkan pada kawan-kawannya di setiap kesempatan. Gunakan media sosial untuk memancing semangat mereka agar berbuat lebih. Tentu saja, hambatan akan selalu ada. Mood yang naik turun, dan sebagainya. Namun kita harus selalu mencari alasan agar terus semangat.

Yakinkan bahwa mereka hebat. Mereka keren dan luar biasa. Agar percaya dirinya bangkit. Awalnya mereka sangat pemalu, tapi lama-lama mereka sangat berani berbagai. Semoga sukses untuk kita semua.

16:05 Diikuti oleh lebih dari 20 pemirsa dari berbagai daerah di Indonesia, di mana mereka dapat berinteraksi langsung secara virtual melalui Google Meet dengan Tinur, S. Pd.I (Guru Pendidikan Agama Islam SDN 9 Pinggir), dan siswa-siswa kelas 6 SDN 9 Pinggir, yaitu Adelia Nurrahmi, Sabila Aulia, Raisya Aqila Putri, Julia Riyanti, dan Devita Try Handa Yani, dipandu oleh Gusman Adi dan Esther Chandra dari REFO. – Meet and Greet

15:58 Sesi ditutup

15:51 Sesi tanya jawab

Ninik Kiswari: Apakah pendampingan yang diberikan dalam pembuatan situs web ini merupakan salah satu bentuk ekstrakurikuler atau intrakurikuler di sekolah?

Gusman Adi: Izin mewakili Ibu Tinur yang masih terkendala dengan jaringan. Tadi saya sempat ngobrol, Ibu Tinur mengajarkan hal ini pada jam pelajaran beliau, tapi proyek pembuatan situs web ini merupakan proyek tambahan di luar mata pelajaran.

Nur Azizah Rustam: Apa perbedaan Google Sites ini dengan situs web biasa yang berbayar? Apakah Google Sites ada batasan waktu berlakunya?

Tinur: Google Sites ini gratis, sangat mudah digunakan, dan sudah terintegrasi dengan Google Workspace yang diakses melalui Akun belajar.id.

Gusman Adi: Saya tambahkan, kalau situs web yang berbayar kostumasinya bisa lebih banyak. Namun bukan berarti Google Sites tidak bisa dikostumasi, dan yang lebih penting adalah dengan adanya Google Sites dalam akun pembelajaran ini, kita bisa belajar bagaimana membuat situs web yang informasinya bisa diakses oleh umum.

Tinur: Kita sudah mendapatkan Akun belajar.id, maka dari itu mari kita maksimalkan manfaat dan penggunaannya.

15:40 Mulai terjadi kendala jaringan dari pihak Narasumber. Namun hal itu tak mematahkan semangat Tinur dan Adelia bersama teman-temannya. Pantang menyerah, mereka tetap melanjutkan webinar. Moderator dan para pemirsa turut menyemangati para Narasumber hebat ini.

Sebagai informasi, SDN 9 Pinggir, yang berlokasi di Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, ini berjarak lebih dari 200 kilometer dari Kota Pekanbaru dengan jarak tempuh berkendara lebih dari 3 jam.

15:24 Adelia  Nurrahmi mulai menjelaskan langkah-langkah membuat situs web dengan Google Sites, sebagai berikut:

  1. Buka Google Chrome;
  2. Login ke Chrome dengan akun Google;
  3. Klik titik sembilan di kanan atas;
  4. Gulir ke bawah, klik Sites;
  5. Setelah masuk ke Google Sites, klik “Kosong” untuk membuat situs baru;
  6. Akan terbuka laman Google Sites yang baru seperti di bawah ini:

7. Beri judul laman situs web sesuai dengan keinginan kita, contohnya SDN 9 Pinggir;

8. Tambahkan logo sesuai dengan nama situs web;

9. Ubah gambar di latar belakang judul dengan mengklik ubah gambar, lalu upload gambar sesuai dengan keinginan kita;

10. Setelah itu kita bisa memodifikasi situs web sesuai dengan keinginan kita, termasuk menambahkan laman baru untuk memasukkan informasi-informasi dan foto-foto sesuai dengan kebutuhan.

15:17 Cara membuat proyek pengenalan kelas bersama siswa dengan Google Sites: Ini adalah tampilan laman utama situs web yang dibuat oleh lima peserta didik yang menjadi narasumber dalam sesi ini, di bawah bimbingan Tinur. Situs web ini dapat ditemukan di https://sites.google.com/guru.sd.belajar.id/sdn9pinggirriau/beranda

Gusman Adi: Dengan informasi selengkap ini dan animasi yang bagus, berapa lama Adelia dan teman-teman membuat situs web ini?Tinur: Kita membuat “rumahnya” hanya sebentar, sekitar satu sampai dua jam. Namun kemudian kita menambahkan informasi, foto-foto, dan sebagainya, jadi totalnya sekitar satu minggu.

15:13 Perkenalan: Tinur, S. Pd.I (Guru Pendidikan Agama Islam SDN 9 Pinggir) memperkenalkan diri dan anak-anak didiknya yang turut menjadi narasumber dalam sesi ini. Tinur juga mengajak semua pemirsa untuk bekerja sama dan membuat dampak besar untuk pendidikan di Indonesia.

 

15:01 Membuat Proyek Pengenalan Kelas Bersama Siswa dengan Google Sites – Webinar

Narasumber dalam webinar ini bukan hanya pendidik, tapi juga peserta didik. Mereka adalah Tinur, S. Pd.I (Guru Pendidikan Agama Islam SDN 9 Pinggir), Adelia Nurrahmi  (Siswa kelas 6 SDN 9 Pinggir), Sabila Aulia (Siswa kelas 6 SDN 9 Pinggir), Raisya Aqila Putri (Siswa kelas 6 SDN 9 Pinggir), Julia Riyanti (Siswa kelas 6 SDN 9 Pinggir), dan Devita Try Handa Yani (Siswa kelas 6 SDN 9 Pinggir)

Gusman Adi dari REFO membuka sesi dengan menyapa para Narasumber dan semua pemirsa yang menyaksikan dari berbagai kanal YouTube.

Pemutaran video Festival Komunitas belajar.id yang berisi kegiatan-kegiatan sehubungan dengan Akun belajar.id.

Gusman Adi menjelaskan secara singkat tentang Festival Komunitas belajar.id

Gusman Adi mengumumkan beberapa lomba berhadiah yang diselenggarakan REFO.

______________________________________________________________________________

Penulis :

Astrid Prahitaningtyas

Tricia Catherina

Share :

Related articles