Setiap 23 Juli, Indonesia memperingati Hari Anak Nasional. Momen ini mengingatkan bahwa di tengah pesatnya perkembangan AI, anak tidak hanya belajar menggunakan teknologi. Mereka juga sedang belajar mengenal dirinya sendiri.
Teknologi, termasuk AI, hadir dalam keseharian anak. Mereka bisa mendapatkan jawaban dalam hitungan detik dari chatbot, hingga menerima rekomendasi tontonan dari algoritma. Kemudahan ini memang membawa banyak manfaat, tetapi ketika “instan” menjadi kebiasaan, anak bisa kehilangan kemampuan berpikir, mencoba, dan mengambil keputusan sendiri. Padahal, proses itulah yang membentuk jati diri.
Fitrah Anak dan Proses Bertumbuh
Fitrah dipahami sebagai natural disposition, yaitu potensi bawaan yang dimiliki setiap manusia sejak lahir. Potensi ini berkembang melalui pengalaman, pendidikan, dan lingkungan tempat anak bertumbuh.
Kajian dalam Frontiers in Psychology juga menjelaskan bahwa fitrah berkaitan dengan kecenderungan alami manusia menuju kebaikan, kebenaran, serta kemampuan untuk belajar dan berkembang. Dengan kata lain, setiap anak memiliki potensi yang perlu dipelihara agar berkembang secara optimal.
Rasa ingin tahu, keberanian mencoba, kemampuan berpikir, dan keinginan untuk belajar merupakan bagian dari proses tersebut. Potensi-potensi ini tidak tumbuh hanya karena anak menerima banyak informasi, tetapi karena mereka diberi ruang untuk mengalami, bertanya, dan menemukan jawabannya sendiri.
Jati Diri Dibentuk Melalui Pengalaman
Jati diri adalah cara anak mengenal dirinya, memahami nilai yang diyakininya, serta menentukan bagaimana ia berpikir dan bertindak. Jati diri berkembang melalui pengalaman, pilihan, hubungan dengan orang lain, serta berbagai tantangan yang dihadapi anak.
Setiap kali anak memilih, melakukan kesalahan, memperbaikinya, lalu mencoba kembali, mereka sedang membangun pemahaman tentang dirinya sendiri. Proses inilah yang membuat setiap anak tumbuh menjadi pribadi yang unik.
Bagaimana AI Memengaruhi Jati Diri Anak
Kemampuan untuk berpikir, memilih, dan bertindak secara sadar dikenal sebagai human agency. Kemampuan ini membantu anak menilai berbagai pilihan sebelum memutuskan sesuatu.
Cornelia Walther dalam Forbes menjelaskan bahwa ketergantungan terhadap AI berkembang secara bertahap. Pengguna biasanya mulai memanfaatkan AI sebagai alat bantu, kemudian menjadikannya bagian dari rutinitas, hingga akhirnya bergantung pada AI untuk mengambil keputusan.
Hal yang sama dapat terjadi pada anak. Ketika AI selalu menjadi sumber jawaban pertama, kesempatan untuk berpikir kritis, mencoba berbagai kemungkinan, dan belajar dari kesalahan menjadi semakin berkurang. Jika berlangsung terus-menerus, proses pembentukan jati diri pun dapat ikut terhambat karena anak semakin jarang menggunakan kemampuan berpikir dan mengambil keputusan secara mandiri.
Peran Orang Tua di Era AI
Anak membutuhkan pendampingan agar teknologi digunakan secara bijaksana. Orang tua harus menjadi teladan sekaligus pendamping saat anak mulai mengenal AI. Jelaskan bahwa AI mampu mengenali pola, mengikuti instruksi, dan menghasilkan jawaban, tetapi tidak berpikir, tidak memahami makna, atau memiliki perasaan seperti manusia. Dengan begitu, anak memahami bahwa AI adalah alat bantu, bukan pengganti penilaian manusia.
Orang tua juga perlu membiasakan anak mendiskusikan jawaban AI agar mereka tetap berpikir kritis dan membandingkannya dengan buku, guru, atau sumber tepercaya lainnya. Gunakan AI untuk mendukung proses belajar, bukan menggantikannya. Di saat yang sama, bangun komunikasi agar anak memahami bahwa perhatian, empati, dan hubungan antarmanusia tetap memiliki peran yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.
Membantu Anak Bertumbuh di Era AI
Penggunaan teknologi secara tepat dapat membuka peluang besar bagi anak untuk belajar, berkarya, dan menyelesaikan masalah. Salah satu contohnya adalah Ibrahim Al Abrar, siswa kelas 6 SD asal Boyolali, yang mendapat apresiasi dari NASA setelah menemukan celah keamanan pada sistem publik lembaga antariksa Amerika Serikat tersebut. Kisahnya menunjukkan bahwa teknologi dapat membantu anak mengembangkan potensinya ketika digunakan dengan rasa ingin tahu, ketekunan, dan kemampuan berpikir kritis.
Karena itu, yang perlu dijaga adalah kesempatan anak untuk tetap bertanya, berpikir, mencoba, dan mengambil keputusan. Kedekatan mereka dengan AI seharusnya tidak mengurangi proses tersebut.
Di Hari Anak Nasional ini, mari dampingi anak memanfaatkan AI sebagai alat belajar, bukan pengganti proses berpikir. Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat tumbuh sesuai fitrahnya, mengenal dirinya, dan mengembangkan potensi terbaik yang dimilikinya.
Penulis: Yanti Damayanti
Editor: Astrid Prahitaningtyas
Artikel terkait:
