Tren Teknologi Pendidikan Selepas Pandemi

Tren Teknologi Pendidikan Selepas Masa Pandemi

Pandemi COVID-19 telah mengubah wajah dunia pendidikan. Pembelajaran tatap muka berubah menjadi jarak jauh. Sekolah-sekolah sempat gagap mencari solusi terbaik, sebuah teknologi yang dapat mendukung moda pembelajaran jarak jauh. Saat ini, sekolah sudah kembali dilaksanakan secara tatap muka. Apakah pemanfaatan teknologi dalam pendidikan masih relevan?

REFO mengadakan sebuah studi yang secara khusus membahas tren teknologi pendidikan selepas pandemi. Tahapan awal dari keseluruhan studi ini telah dipresentasikan oleh Pendiri dan Direktur Utama REFO Pepita Gunawan dalam “5th SPK National Convention 2022”, yang dilaksanakan di British School Jakarta, Tangerang Selatan, pada hari Senin, 17 Oktober 2022.

Sebelum masuk ke pembahasan lebih lanjut, perlu diketahui kronologi adaptasi teknologi dalam pendidikan di Indonesia, sebagai berikut:

Berdasarkan fakta tersebut dalam kronologi di atas, timbul dua pertanyaan sehubungan dengan adaptasi teknologi pendidikan, yaitu:

  1. Apakah integrasi teknologi dalam pendidikan akan terus  berkembang selepas pandemi?
  2. Atau akan kembali ke masa sebelum pandemi, di mana segala sesuatu dilakukan secara manual dengan pertemuan yang 100% tatap muka?

Untuk menjawab dua pertanyaan tersebut, REFO melakukan sebuah penelitian literatur, yaitu dengan melakukan studi terhadap 121 hasil penelitian tentang integrasi teknologi dalam dunia pendidikan di Indonesia, yang dilakukan selama periode Juli 2021 hingga Agustus 2022.

Berikut adalah hasil dari studi yang dilakukan REFO:

Diagram di atas menunjukkan penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Berikut adalah interpretasinya:

  1. 52% pemanfaatan teknologi digunakan sebagai media instruksi, yaitu di mana para siswa berinteraksi dengan media untuk mempelajari sesuatu. Contoh: pemanfaatan video sebagai media, di mana siswa dapat belajar sesuatu dari konten video tersebut.
  2. 21% pemanfaatan teknologi digunakan sebagai strategi belajar/mengajar, yaitu kombinasi antara apa yang dilakukan guru dan apa yang dilakukan siswa dalam suatu kegiatan pembelajaran. Contoh: pemanfaatan Google Classroom dalam kegiatan belajar mengajar.
  3. 20% pemanfaatan teknologi digunakan sebagai perangkat pembelajaran, yaitu di mana guru menggunakan alat dalam teknologi untuk menyampaikan pesan/pelajaran. Contoh: pemanfaatan Google Docs untuk mengerjakan tugas/makalah.
  4. 2% pemanfaatan teknologi digunakan dalam lingkungan kependidikan. Di sini, teknologi digunakan tidak hanya sekedar untuk kegiatan pembelajaran, tapi seluruh proses kependidikan di sekolah. Contoh: pemanfaatan teknologi selain digunakan untuk proses pembelajaran, juga sebagai cara untuk pembayaran uang sekolah, pengelolaan basis data siswa, dan lain-lain.
  5. 1% pemanfaatan teknologi digunakan untuk pembangunan dan pengembangan profesi. Contoh: sertifikasi profesi untuk para guru, misalnya Google Certified Educator.
  6. 1% pemanfaatan teknologi digunakan untuk administrasi sekolah. Contoh: pemanfaatan platform Workday yang bisa membantu pengaturan sumber daya manusia di sekolah.

Daftar di atas adalah hasil temuan studi mengenai merek-merek teknologi yang digunakan dalam dunia kependidikan di Indonesia. Yang dimaksud dengan “No Brand” adalah di mana dalam 121 penelitian yang menjadi obyek studi tidak disebutkan secara spesifik merek teknologi yang digunakan.

Daftar di atas adalah hasil temuan studi mengenai mata pelajaran yang paling banyak menggunakan teknologi. 23 di antaranya tidak menyebutkan mata pelajaran secara spesifik, dan kemudian terlihat dalam daftar bahwa peringkat kedua dan ketiga diambil oleh mata pelajaran yang bersinggungan dengan sains, yaitu Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Matematika, selanjutnya adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Pendidikan Agama Islam. Hal ini menarik, karena menurut pandangan REFO, mata pelajaran yang bersinggungan dengan seni dan ilmu sosial yang lebih mudah diimplementasikan menggunakan teknologi dalam pembelajarannya.

Diagram di atas menunjukkan bagaimana satuan kependidikan di Indonesia menerima pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran. Teknologi diterima dengan positif oleh 91,7% audiens dalam studi yang dilakukan REFO, Indonesia siap dan senang mengimplementasikan teknologi dalam kegiatan pembelajaran dan kependidikan sehari-hari.

Data-data yang terpapar di atas menunjukkan bahwa:

  1. Teknologi di dunia pendidikan kebanyakan digunakan untuk proses pembelajaran di kelas;
  2. Sedangkan untuk lingkungan kependidikan, pengembangan profesi guru dan staf, administrasi sekolah, kebanyakan masih menggunakan cara tradisional, belum mengintegrasikan teknologi dalam kegiatannya sehari-hari.
  3. Pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran kebanyakan digunakan untuk mata pelajaran yang bersinggungan dengan STEM, Bahasa Indonesia, dan Pendidikan Agama Islam; sedangkan mata pelajaran yang bersinggungan dengan seni dan ilmu sosial masih kurang mengintegrasikan teknologi dalam pembelajarannya.

Berdasarkan hasil studi, REFO merekomendasikan hal-hal berikut:

  1. Lingkungan kependidikan; sebagai pembuat kebijakan di sekolah, agar mendorong integrasi dan penggunaan teknologi tidak hanya sebatas di dalam kelas, tapi juga di dalam institusi secara keseluruhan. Hal yang dapat dilakukan antara lain:
    • Ciptakan lingkungan kependidikan yang kontekstual secara teknologi;
    • Perbarui kebijakan sekolah yang sudah ketinggalan zaman;
    • Ciptakan komunikasi yang bermakna dengan orang tua murid dan pemangku kepentingan lainnya.
  2. Pengembangan profesi; hal ini penting dilakukan pada saat sebuah institusi mengintegrasikan teknologi dalam kegiatan kependidikannya sehari-hari, karena teknologi yang canggih tidak akan bermanfaat jika tidak dioperasikan dengan baik. Hal yang dapat dilakukan antara lain:
    • Mengadakan pelatihan-pelatihan pengembangan profesi sehubungan dengan integrasi teknologi untuk guru dan staf
    • Menyediakan bimbingan dan pelatihan untuk guru dan staf baru;
    • Gunakan teknologi sebagai pengantar dalam pengembangan profesi.
  3. Administrasi sekolah; manfaatkan teknologi tidak hanya untuk proses pembelajaran, tapi juga sistem administrasi di sekolah secara menyeluruh, seperti sistem keuangan, sistem keperpustakaan, dan lain-lain. Perbarui kebijakan yang sudah ketinggalan zaman, karena pemanfaatan teknologi dalam kegiatan kependidikan sehari-hari akan membuatnya lebih efektif dan efisien.
  4. Integrasikan teknologi untuk semua mata pelajaran, termasuk seni dan ilmu sosial. Sediakan bimbingan dan pelatihan untuk mendorong adaptasi teknologi di semua mata pelajaran.

Berdasarkan hasil diskusi dengan beberapa sekolah dalam kesempatan “5th SPK National Convention 2022”, ditemukan hal-hal berikut:

  1. Banyak sekolah yang merasa kewalahan dengan begitu banyak platform dan aplikasi yang harus digunakan dalam hal pemanfaatan teknologi, dan tidak ada keseragaman penggunaan platform/aplikasi di antara para guru. Hal ini tentunya sangat merepotkan bagi manajemen sekolah, pengelola TIK, dan bahkan guru-guru itu sendiri. Siswa juga menemukan kesulitan akibat dari penggunaan platform/aplikasi yang terlalu beragam.
  2. Sekolah-sekolah tersebut mengatakan bahwa tidak ada satu platform yang bisa digunakan untuk semua keperluan proses kependidikan. Akibatnya kembali mengakibatkan penggunaan platform yang terlalu beragam. Untuk mengatasi hal ini, REFO merekomendasinya untuk menggunakan satu platform yang dapat memenuhi sebanyak mungkin keperluan proses kependidikan.
  3. Adanya kebutuhan akan single sign-on, satu platform yang dapat menyatukan semua platform yang digunakan tersebut. Untuk melakukan hal itu akan dibutuhkan integrasi sistem, yang tentunya akan memerlukan biaya yang tinggi, sumber daya yang mahal, dan waktu yang lama.
  4. Adanya budaya dalam institusi di mana semua guru dan staf harus terus melakukan pengembangan diri, baik guru dan staf baru, maupun yang lama. Ada waktu-waktu tertentu yang memang didedikasikan untuk pelatihan, pendampingan, dan pembelajaran bagi guru dan staf.

Demikian adalah temuan-temuan yang REFO peroleh dari hasil studi terhadap 121 penelitian.

Ini adalah tahap awal dari keseluruhan riset dan studi yang akan dilakukan, di mana akan dilakukan studi kasus terhadap lebih dari 100.000 guru di dalam komunitas dikelola oleh REFO. Studi kasus tersebut akan memberikan gambaran tentang fakta bagaimana para pendidik tersebut memanfaatkan teknologi dalam kegiatan pembelajaran dan kependidikan.

Harapannya, dari studi kasus yang tengah dilakukan saat ini, REFO akan memberikan rekomendasi-rekomendasi terkini sehubungan dengan tren pemanfaatan dan integrasi teknologi dalam kependidikan di Indonesia.

Penulis : Astrid Prahitaningtyas

Artikel terkait:

Share :

Related articles