Setelah Siswa Bersuara, Apa yang Berubah di Sekolah?

supportive classroom circle discussion

Sekolah membagikan survei kesejahteraan kepada siswa. Ada pertanyaan tentang stres, rasa aman, beban belajar, hubungan dengan teman, dan dukungan yang mereka rasakan di sekolah. Ratusan jawaban terkumpul. Sekolah mendapatkan gambaran tentang apa yang dirasakan siswa.

Lalu, apa yang terjadi setelahnya?

Pertanyaan ini relevan dalam menyambut Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026. World Health Organization mengangkat tema Lived experiences heard, real voices, real change. WHO mengajak berbagai pihak untuk memberi ruang yang bermakna bagi orang dengan pengalaman langsung terkait kondisi kesehatan mental. Pengalaman tersebut dapat ikut membentuk keputusan, layanan, pelaksanaan, dan evaluasi yang memengaruhi kehidupan mereka.

Dalam kampanye ini, lived experience memiliki makna yang spesifik. Pengalaman langsung menghadapi kondisi kesehatan mental dapat menghasilkan pengetahuan yang tidak selalu diperoleh melalui pendidikan profesional atau penelitian. Orang yang mengalaminya dapat melihat hambatan dan kebutuhan yang mungkin terlewat oleh orang lain.

Prinsip tersebut memberi ruang refleksi bagi dunia pendidikan. Ketika sekolah ingin memahami kesehatan mental dan kesejahteraan siswa, pengalaman siswa layak menjadi bagian dari proses memahami masalah dan menentukan langkah berikutnya.

Sekolah Ada dalam Keseharian Siswa

Indonesia National Adolescent Mental Health Survey atau I-NAMHS yang dipublikasikan pada 2022 menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia usia 10 sampai 17 tahun mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan sebelum survei. Satu dari 20 remaja mengalami gangguan mental. Hanya 2,6 persen remaja dengan masalah kesehatan mental yang menggunakan fasilitas kesehatan mental atau konseling dalam periode tersebut.

Sekolah juga muncul dalam temuan tersebut. Sebanyak 38,2 persen pengasuh yang mengakses layanan kesehatan mental memilih layanan dari sekolah untuk remaja mereka.

WHO bersama UNESCO dan UNICEF memperkuat peran sekolah melalui panduan Teaching with Care yang diterbitkan pada September 2026. Panduan tersebut menyoroti pentingnya lingkungan belajar yang aman dan inklusif, hubungan yang positif, kemampuan mengenali tanda awal kesulitan, serta akses menuju dukungan yang sesuai. Diagnosis dan layanan khusus tetap berada pada tenaga profesional yang memiliki kompetensi di bidang kesehatan mental.

Mendengar Dapat Membuka Pintu Perubahan

Siswa mengalami sekolah setiap hari. Mereka merasakan jadwal pelajaran, pola pemberian tugas, interaksi dengan guru dan teman, aturan sekolah, ruang fisik, serta sistem dukungan yang tersedia.

Pengalaman tersebut memberi sekolah informasi yang sulit diperoleh dari angka saja.

Ketika banyak siswa menyampaikan bahwa mereka kewalahan pada periode tertentu, sekolah dapat meninjau kalender asesmen dan pola koordinasi tugas. Ketika siswa kesulitan mencari bantuan, sekolah dapat memeriksa kembali jalur dukungan yang tersedia dan seberapa mudah siswa mengaksesnya. Ketika siswa merasa kurang nyaman membicarakan kesulitan dengan orang dewasa di sekolah, pengalaman tersebut dapat menjadi bahan untuk melihat kembali bagaimana relasi antara siswa, guru, wali kelas, dan konselor dibangun.

Setiap temuan membuka pertanyaan baru tentang pengalaman siswa dan sistem sekolah yang membentuknya. Tindak lanjut dapat hadir melalui penyesuaian jadwal, komunikasi yang lebih jelas, akses bantuan yang lebih mudah, penguatan peran wali kelas, atau cara guru membangun ruang belajar yang aman.

Dari Bertanya Menuju Tindakan

Sekolah dapat memulai dengan lima langkah sederhana, sebagai berikut:

  1. Tanyakan. Sediakan berbagai cara bagi siswa untuk berbagi pengalaman. Survei dapat dilengkapi dengan percakapan, forum siswa, diskusi kelompok, konseling, atau mekanisme lain yang sesuai.
  2. Dengarkan. Cari cerita dan pola di balik jawaban yang terkumpul. Berikan perhatian pada pengalaman siswa yang jarang muncul dalam percakapan sekolah.
  3. Libatkan. Ajak siswa yang terdampak untuk membantu sekolah memahami persoalan dan mengeksplorasi langkah yang dapat dilakukan. Untuk pembahasan kesehatan mental, keterlibatan perlu berlangsung secara aman, sukarela, sesuai usia, dan menjaga privasi.
  4. Bertindak. Gunakan temuan tersebut untuk meninjau praktik pembelajaran, sistem dukungan, komunikasi, lingkungan sekolah, atau kebijakan yang relevan.
  5. Kembali kepada siswa. Ceritakan apa yang sekolah pelajari, langkah yang akan dilakukan, serta alasan di balik keputusan yang diambil. Siswa perlu mengetahui bahwa suara mereka masuk ke dalam proses perubahan.

Proses ini juga dapat membangun kepercayaan. Ketika siswa melihat bahwa masukan mereka ditanggapi secara serius, mereka memiliki alasan untuk terus terlibat. Sekolah pun mendapatkan kesempatan untuk belajar dari pengalaman yang terjadi dalam keseharian.

Apa yang Berubah Setelah Kita Mendengar?

Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026 mengajak kita melihat pengalaman hidup sebagai sumber pengetahuan yang memiliki nilai. Di sekolah, semangat yang sama dapat dimulai dengan kesediaan untuk mendengar lebih dalam dan membawa hasilnya ke dalam proses pengambilan keputusan.

Survei kesejahteraan dapat membuka percakapan. Percakapan dapat membantu sekolah memahami pengalaman siswa. Pemahaman tersebut dapat menjadi dasar untuk memperbaiki pengalaman mereka sehari-hari.

Pada akhirnya, ada satu pertanyaan yang layak dibawa kembali ke sekolah. Apa yang berubah karena kita mendengarkan siswa?

Penulis: Dania Ciptadi

Editor: Astrid Prahitaningtyas

Artikel terkait:

Share :

Related articles