Refleksi dari sesi Ina Liem di IFLS 2026
AI membuat banyak hal menjadi lebih mudah. Pertanyaan dapat dijawab dalam hitungan detik. Informasi dapat dirangkum. Ide dapat dikembangkan. Bahkan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan kemampuan tertentu kini dapat dibantu oleh teknologi.
Di tengah semua kemudahan itu, Ina Liem membawa percakapan di Indonesia Future of Learning Summit (IFLS) 2026 ke arah yang berbeda. Bukan tentang seberapa banyak AI dapat membantu pendidikan, tetapi tentang apa yang dapat terjadi jika pendidikan terus berjalan seperti biasa ketika dunia di sekitarnya sudah berubah.
Risiko Terbesar Bukan Hanya AI
Kehadiran AI sering memunculkan kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi ketika teknologi semakin banyak digunakan siswa. Namun, sesi Ina mengajak kita melihat risiko dari sisi lain. Apa yang terjadi jika pendidikan justru tidak berubah?
Ketika teknologi dapat menghasilkan jawaban dengan cepat, kemampuan manusia tidak lagi cukup dibangun melalui penguasaan jawaban. Siswa membutuhkan kemampuan untuk memahami persoalan, mempertanyakan informasi, melihat sesuatu dari berbagai sudut, dan menentukan pertanyaan apa yang layak diajukan. Di sinilah rasa ingin tahu menjadi penting.
Curiosity muncul sebagai salah satu kemampuan yang berulang kali ditekankan Ina. Namun, ia tidak membicarakannya sebagai sesuatu yang abstrak. Ia membawa pertanyaan itu langsung ke praktik pendidikan: seberapa sering siswa kita bertanya? Seberapa baik kualitas pertanyaan mereka? Dan pernahkah sekolah benar-benar memperhatikannya?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin menarik ketika dibandingkan dengan sesuatu yang jauh lebih lazim dilakukan sekolah: mengukur kemampuan siswa dalam memberikan jawaban.
Dari Menjawab Pertanyaan ke Mempertanyakan Pertanyaan
Salah satu contoh yang dibawa Ina sederhana. Dalam sebuah ujian, siswa biasanya menerima sejumlah pertanyaan dan diharapkan menjawabnya dengan benar. Tetapi pernahkah mereka diberi kesempatan untuk mengatakan bahwa pertanyaannya kurang tepat? Atau bahkan menantang pertanyaan yang diberikan guru?
Ina sendiri bercerita bahwa ketika menerima daftar pertanyaan untuk sebuah wawancara, ia dapat mengatakan bahwa beberapa pertanyaan tidak relevan dan mengusulkan pertanyaan lain. Lalu ia membalik situasinya ke ruang kelas: apakah kesempatan serupa pernah kita berikan kepada siswa?
Contoh itu memperlihatkan perbedaan yang kecil tetapi mendasar.
Pendidikan dapat melatih seseorang untuk menjadi sangat baik dalam menjawab pertanyaan yang diberikan kepadanya. Namun, dunia nyata tidak selalu datang dalam bentuk soal dengan pertanyaan yang sudah tersedia. Kadang-kadang kemampuan yang lebih penting justru mengenali bahwa kita sedang mengajukan pertanyaan yang salah.
Di era AI, perbedaan ini menjadi semakin penting. Mesin dapat membantu menghasilkan jawaban. Tetapi manusia tetap perlu menentukan apa yang perlu dicari, apa yang perlu dipertanyakan, dan mengapa sebuah persoalan layak mendapat perhatian.
Kemampuan Manusia Tidak Tumbuh dengan Sendirinya
Rasa ingin tahu bukan satu-satunya kemampuan yang muncul dalam sesi Ina. Kemampuan berpikir kritis, melihat persoalan dari sudut yang berbeda, beradaptasi, dan terus belajar juga menjadi bagian dari pembicaraan tentang manusia yang akan hidup berdampingan dengan teknologi. Masalahnya, kemampuan-kemampuan tersebut tidak otomatis tumbuh hanya karena sekolah menganggapnya penting.
Jika kita ingin siswa bertanya, pengalaman belajar perlu memberi mereka ruang untuk bertanya. Jika kita ingin mereka berpikir kritis, mereka membutuhkan kesempatan untuk mempertanyakan sesuatu, termasuk apa yang disampaikan kepada mereka. Jika kita ingin mereka mampu menghadapi perubahan, pembelajaran tidak dapat hanya melatih mereka mengikuti pola yang sudah diketahui. Karena itu, pembicaraan tentang masa depan pendidikan tidak cukup berhenti pada daftar kemampuan yang akan dibutuhkan siswa. Kita juga perlu melihat apakah cara mereka belajar hari ini benar-benar memungkinkan kemampuan tersebut berkembang
Kembali pada Pertanyaan tentang Sekolah
Di penghujung bagian ini, Ina membawa percakapan kembali pada tujuan pendidikan. Itulah yang membuat pertanyaan tentang AI menjadi lebih besar daripada persoalan penggunaan teknologi di kelas.
Sekolah dapat mengadopsi tools baru. Guru dapat belajar menggunakan AI. Siswa dapat semakin mahir memanfaatkannya. Semua itu mungkin diperlukan. Namun, perubahan teknologi juga memberi kita kesempatan untuk melihat kembali sesuatu yang lebih mendasar.
Apa yang selama ini kita hargai dalam proses belajar? Apakah siswa hanya belajar memberikan jawaban yang benar, atau juga belajar menemukan pertanyaan yang penting? Apakah mereka hanya mengikuti instruksi, atau memiliki ruang untuk mempertanyakan, mengeksplorasi, dan mengambil keputusan?
Ketika jawaban semakin mudah diperoleh, kemampuan untuk bertanya mungkin justru menjadi semakin berharga. Dan mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri bukan hanya seberapa siap sekolah menggunakan AI, tetapi: Apakah cara kita mendidik hari ini masih cukup untuk menumbuhkan manusia yang kita perlukan esok hari?
Penulis: Astrid Prahitaningtyas
Artikel terkait:
- Ketika AI Semakin Canggih, Apa yang Harus Tetap Manusiawi dalam Pendidikan?
- Capability Gap: Ketika AI Melaju Lebih Cepat daripada Kemampuan Siswa
- Halusinasi AI: Ketika AI Terdengar Meyakinkan, Tetapi Tidak Selalu Benar
- Semakin Pintar AI, Semakin Tinggi Nilai Pertimbangan Manusia
- Intentional AI: Pertanyaan Penting yang Perlu Dijawab Sekolah Sebelum Mengadopsi AI
