Tantangan di Balik Bakat Istimewa: Memahami Anak Cerdas Istimewa dan Berbakat Istimewa (CIBI)

anak CIBI

Anak Cerdas Istimewa dan Berbakat Istimewa (CIBI) punya potensi besar tapi rentan stres. Yuk, pelajari cara menjaga kesehatan mentalnya di rumah dan sekolah.

Anak CIBI sering dianggap anugerah bagi orang tua dan guru. Namun kurangnya pemahaman tentang realitas kehidupan mereka kerap memicu konflik yang berdampak pada kesehatan mental semua pihak.

Anak CIBI dan Tantangan di Balik Keistimewaannya

CIBI bukanlah sekadar kepintaran akademis atau IQ tinggi. Anak CIBI menunjukkan kemampuan di atas rata-rata dalam satu atau beberapa bidang, baik akademik maupun non-akademik, atau keduanya. Mereka juga memiliki komitmen tinggi, rasa ingin tahu besar, serta kreativitas luar biasa.

Keistimewaan ini bisa terlihat dari kemampuan mengingat detail dengan sangat baik, penggunaan kosakata yang jauh melampaui usianya, hingga pemikiran abstrak dan filosofis sejak dini. Namun, justru karena keistimewaan itu, anak CIBI sering menghadapi tekanan emosional yang berat.

Anak CIBI yang cenderung perfeksionis sehingga mudah frustrasi saat hasil yang mereka capai tidak sesuai dengan ekspektasi diri. Mereka sering memiliki visi besar, bahkan cita-cita untuk mengubah dunia. Namun di sisi lain, perbedaan cara berpikir dan berinteraksi kerap membuat mereka sulit berbaur dengan teman sebaya.

Tekanan inilah yang membuat anak CIBI lebih rentan terhadap kecemasan berlebihan, stres, dan depresi. Ditambah lagi, kurangnya pemahaman dari lingkungan sekitar membuat situasi semakin kompleks, sehingga anak CIBI sering dianggap nakal, sulit diatur, atau justru diabaikan karena dinilai mampu belajar sendiri.

Dukungan yang Dibutuhkan Anak CIBI

Direktur Pusat Muda Berbakat Irlandia, Dr. Colm O’Reilly, mengatakan bahwa anak CIBI perlu merasa diterima dan memiliki tempat yang sesuai dengan dirinya, baik di sekolah maupun di lingkungan lainnya. Hal ini bisa dicapai melalui tugas atau materi yang diberikan sesuai tingkat kecerdasan mereka di bidang tersebut, maupun mengikuti program di luar sekolah sesuai minat.

Anak-anak ini juga perlu memahami bahwa perbedaan mereka dari orang lain adalah bagian dari gambar diri mereka, bukan sesuatu yang rusak dan perlu diperbaiki. Terapi atau konseling dengan profesional akan sangat membantu agar mereka dapat menerima diri mereka sendiri sekaligus mampu menyesuaikan dengan lingkungan sekitarnya.

Anak istimewa seperti ini memang bagaikan pedang bermata dua, berpotensi besar untuk pencapaian luar biasa, tetapi penanganannya tidak biasa. Agar kesehatan mental anak berbakat bisa terjaga, pastikan agar mereka memiliki tempat aman untuk menjadi diri mereka sendiri, baik di keluarga dan komunitasnya, serta memiliki akses ke ahli konseling yang tidak akan menghakimi mereka.

Dari Sekolah untuk Kesehatan Mental Anak Didik

Menjaga kesehatan mental anak berbakat tidak hanya tanggung jawab orang tua dan si anak. Tempat di mana anak bersekolah pun juga perlu turut menjaga kesehatan mental anak-anak didiknya, tanpa mengecualikan anak-anak CIBI.

Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan teknologi. Aplikasi solusi seperti Zoala ditujukan bagi sekolah yang ingin turut menjaga kesehatan mental siswa. Anak-anak bisa curhat kapan pun dengan Zoala, serta belajar cara mengelola emosi dan menangani situasi yang memengaruhi emosi mereka. Bagi anak-anak gifted yang seringkali merasa orang-orang di sekitarnya kurang bisa memahami cara berpikir maupun emosi yang mereka rasakan, akses ke teman curhat digital yang aman dan sadar kesehatan mental seperti ini bisa memberikan kelegaan dan membantu menghindari terjadinya stres berlebih, bahkan depresi.

Selain itu, Zoala juga menjadi mitra pendidik dalam mengenali gejala awal murid yang mulai merasakan stres atau tekanan, sehingga bisa melakukan penanganan dini. Sekolah yang tidak memiliki psikolog, konselor, atau guru pembimbing juga bisa memanfaatkan solusi Zoala untuk mendapatkan rencana penanganan (terapi) yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap individu.

Ketika sekolah melek pentingnya kesehatan mental dan bisa menjadi tempat aman bagi murid untuk berbagi kesulitan yang dihadapinya, maka siswa yang menghadapi masalah unik—misalnya, mereka yang gifted—akan merasa aman untuk berbagi masalahnya, dan terbuka untuk mengambil langkah-langkah yang perlu diambil agar hidup mereka lebih bahagia dan jauh dari depresi.

Penulis: Dania Ciptadi

Editor: Astrid Prahitaningtyas

Artikel terkait:

Share :

Related articles