Refleksi dari sesi Anindito Aditomo di IFLS 2026
AI dapat membantu siswa menjawab soal, menyusun esai, dan memahami materi yang sebelumnya sulit diakses. Namun, ketika hasil pekerjaan menjadi semakin baik berkat bantuan AI, apakah itu berarti siswa juga semakin memahami apa yang mereka pelajari?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pokok refleksi dalam sesi penutup Indonesia Future of Learning Summit (IFLS) 2026 bersama Anindito Aditomo. Ia mengajak para pendidik melihat AI bukan hanya sebagai teknologi yang mengubah cara siswa mengerjakan tugas, tetapi juga sebagai kesempatan untuk meninjau kembali tujuan pendidikan.
Hasil Pekerjaan yang Baik Belum Tentu Menunjukkan Pemahaman
Anindito membuka sesinya dengan pengakuan sederhana: ketika diminta menyiapkan presentasi untuk IFLS 2026, hal pertama yang ia lakukan adalah membuka aplikasi AI. Teknologi tersebut telah mengubah cara ia bekerja, termasuk membantunya memproses berbagai bahan riset dalam waktu jauh lebih singkat.
Ia melihat potensi besar AI untuk memperluas kesempatan belajar. Siswa dapat mengakses penjelasan, mencari informasi dalam berbagai bahasa, dan memperoleh bantuan belajar yang sebelumnya tidak selalu tersedia bagi mereka.
Namun, kemudahan tersebut menyisakan pertanyaan tentang apa yang terjadi selama proses belajar.
Anindito membahas sebuah eksperimen pembelajaran matematika yang membandingkan siswa yang menggunakan AI umum, siswa yang menggunakan AI yang dirancang khusus sebagai tutor matematika, dan siswa yang belajar tanpa AI.
Saat mengerjakan latihan, kelompok yang menggunakan AI menunjukkan hasil lebih baik. Akan tetapi, ketika mengikuti ujian tanpa bantuan AI, siswa yang sebelumnya menggunakan AI umum justru memperoleh hasil lebih rendah dibandingkan kelompok yang belajar tanpa AI.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa keberhasilan menyelesaikan latihan dengan bantuan teknologi tidak selalu mencerminkan kemampuan siswa untuk mengerjakan persoalan secara mandiri.
Anindito juga mengangkat penelitian tentang penggunaan AI dalam penulisan esai. Dalam penelitian tersebut, penggunaan AI dikaitkan dengan keterlibatan kognitif yang lebih rendah selama proses menulis. Sebagian peserta yang menggunakan AI juga mengalami kesulitan ketika diminta menjelaskan kembali isi esai yang mereka hasilkan.
Temuan-temuan itu mengajak pendidik membedakan dua hal yang sering dianggap sama: kualitas hasil pekerjaan dan pembelajaran yang benar-benar terjadi selama proses mengerjakannya.
AI Bukan Awal dari Semua Persoalan Pendidikan
Meski menyoroti risiko penggunaan AI, Anindito tidak menempatkan teknologi sebagai penyebab seluruh persoalan pendidikan.
Kecurangan akademik, rendahnya motivasi belajar, dan kesenjangan kualitas pendidikan telah ada jauh sebelum AI generatif digunakan secara luas. Kehadiran AI membuat persoalan-persoalan tersebut semakin terlihat dan menuntut perhatian.
Sebagai contoh, Anindito menampilkan hasil Asesmen Nasional 2021 untuk menunjukkan kesenjangan kemampuan membaca siswa kelas V di berbagai daerah di Indonesia. Data tersebut berasal dari masa sebelum ChatGPT diluncurkan.
Dengan kata lain, tantangan mendasar pendidikan tidak bermula ketika siswa mulai menggunakan AI untuk mengerjakan tugas.
Jika siswa lebih tertarik memperoleh nilai daripada memahami materi, persoalannya tidak selesai hanya dengan melarang penggunaan AI. Jika sebuah tugas dapat diselesaikan tanpa siswa perlu berpikir atau memahami jawabannya, pendidik juga perlu meninjau kembali apa yang sebenarnya diukur oleh tugas tersebut.
AI membuat pertanyaan lama tentang motivasi, asesmen, dan kualitas pembelajaran menjadi semakin mendesak untuk dijawab.
Pendidikan untuk Menghadapi Persoalan Bersama
Dari pembahasan tentang AI, Anindito kemudian mengajak peserta kembali pada pertanyaan yang lebih mendasar: untuk apa kita menyelenggarakan pendidikan?
Ia menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi manusia, termasuk ketimpangan, perubahan iklim, dan dampak perkembangan teknologi terhadap kehidupan sosial.
Persoalan-persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya melalui keberhasilan individu. Manusia perlu mampu bekerja sama, termasuk dengan orang-orang yang memiliki latar belakang, pandangan, dan kepentingan berbeda.
Namun, menurut Anindito, sistem pendidikan masih banyak menekankan persaingan dan pencapaian individual. Siswa didorong memperoleh nilai tinggi, menjadi yang terbaik, dan mendapatkan akses ke institusi pendidikan yang paling selektif.
Pencapaian akademik tentu memiliki tempat dalam pendidikan. Akan tetapi, ketika keberhasilan individu menjadi pusat perhatian, sekolah berisiko kurang memberi ruang bagi kemampuan yang dibutuhkan untuk menghadapi persoalan bersama.
Anindito mengajak pendidik untuk lebih menghargai kemampuan moral, sosial, dan intelektual yang memungkinkan siswa bekerja sama dengan orang lain. Pendidikan perlu membantu siswa bukan hanya mencapai tujuan pribadi, tetapi juga berkontribusi dalam membentuk masa depan bersama.
Apa yang Perlu Berubah di Sekolah?
Perubahan tujuan pendidikan perlu tercermin dalam pengalaman belajar sehari-hari.
Anindito menyoroti praktik mengajar yang sering berlangsung secara individual: seorang guru mengelola kelasnya sendiri, sementara kesempatan untuk belajar dan merancang pembelajaran bersama rekan sejawat masih terbatas. Ia mengajak guru bergerak menuju praktik yang lebih kolaboratif dalam menciptakan lingkungan belajar di sekolah.
Dalam asesmen, perhatian perlu bergeser dari sekadar menguji, memberi nilai, dan mengurutkan pencapaian siswa menuju pemberian umpan balik yang membantu mereka belajar lebih lanjut. Asesmen juga perlu memberi ruang bagi berpikir kritis dan kemampuan siswa untuk memahami proses berpikirnya sendiri.
Sementara itu, kurikulum dan pembelajaran perlu membantu siswa menghubungkan pengetahuan dari berbagai bidang untuk menghadapi persoalan yang bermakna. Dengan demikian, siswa tidak hanya menerima banyak informasi secara terpisah, tetapi juga belajar menggunakannya bersama orang lain.
Perubahan-perubahan tersebut tidak bergantung pada seberapa canggih teknologi yang dimiliki sekolah. Semuanya berawal dari keputusan tentang pengalaman belajar seperti apa yang ingin diberikan kepada siswa.
Kembali pada Tujuan Pendidikan
AI akan terus berkembang dan menawarkan semakin banyak cara untuk membantu manusia bekerja serta belajar. Sekolah tentu perlu memahami perkembangan tersebut. Namun, mengikuti setiap kemajuan teknologi bukanlah tujuan akhir pendidikan.
Melalui sesi penutup IFLS 2026, Anindito mengingatkan bahwa tugas pendidik adalah membayangkan kembali pendidikan yang memungkinkan seluruh siswa berperan dalam menciptakan masa depan mereka sendiri, masa depan yang lebih adil dan penuh kepedulian.
Karena itu, ketika AI mampu membantu siswa menghasilkan pekerjaan yang semakin baik, pertanyaan pendidik tidak boleh berhenti pada apakah teknologi tersebut digunakan atau tidak.
Kita juga perlu bertanya: apakah proses belajar masih membantu siswa memahami, berpikir kritis, dan bekerja sama untuk menghadapi persoalan yang nyata?
Jawaban atas pertanyaan itulah yang perlu terus menjadi perhatian sekolah, apa pun teknologi yang digunakan di dalam kelas.
Penulis: Astrid Prahitaningtyas
Artikel terkait:
- Strategi AI Sekolah Bukan Sekadar Memilih Teknologi
- Saat Mesin Semakin Pintar, Karakter Manusia Menjadi Penentu Utama
- AI dalam Pembelajaran: Nilai Naik, Tetapi Apakah Siswa Belajar?
- AI Punya Jawaban. Apakah Siswa Kita Punya Pertanyaan?
- Ketika AI Semakin Canggih, Apa yang Harus Tetap Manusiawi dalam Pendidikan?
