Strategi AI Sekolah Bukan Sekadar Memilih Teknologi

alvin soliman miclat

Refleksi dari sesi Alvin Soliman Miclat di IFLS 2026

Setiap kali teknologi AI baru muncul, sekolah dihadapkan pada pilihan yang seolah tidak ada habisnya. Platform mana yang perlu digunakan? Fitur apa yang harus dicoba? Apakah guru dan siswa sudah memiliki akses ke teknologi terbaru?

Namun, ada persoalan mendasar yang mudah terlewat di tengah semua pilihan itu: sebenarnya, apa yang ingin diperbaiki oleh sekolah?

Dalam sesinya di Indonesia Future of Learning Summit (IFLS) 2026, Alvin Soliman Miclat membagikan pengalaman implementasi AI di Bina Bangsa School. Alih-alih memperkenalkan deretan teknologi terbaru, ia mengajak peserta melihat keputusan-keputusan yang perlu dibuat sekolah sebelum, selama, dan setelah teknologi digunakan.

Mulai dari Persoalan, Bukan Platform

Salah satu contoh yang dibagikan Alvin adalah Smart Book Initiative, yang mulai diterapkan di Bina Bangsa School pada 2023.

Inisiatif ini tidak berawal dari keinginan menggunakan AI. Sekolah terlebih dahulu menetapkan tujuan untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih personal. Dari sana, muncul kebutuhan untuk menyesuaikan asesmen dengan kemampuan masing-masing siswa.

Dalam praktik asesmen yang umum, siswa mengerjakan soal yang sama meskipun hasil sebelumnya menunjukkan kekuatan dan kesulitan belajar yang berbeda. Menyiapkan soal lanjutan yang berbeda untuk setiap siswa tentu membutuhkan waktu dan tenaga guru yang tidak sedikit.

Di sinilah AI digunakan. Melalui Smart Book, hasil pekerjaan siswa dinilai dan dianalisis untuk membantu menghasilkan lembar kerja berikutnya berdasarkan kekuatan dan kelemahan masing-masing. Guru tetap bertugas memantau dan menganalisis perkembangan siswa.

Pengalaman ini memperlihatkan perbedaan penting antara menggunakan teknologi karena tersedia dan menggunakan teknologi karena sekolah telah mengenali kebutuhan yang ingin dijawab.

Memberi Akses Tidak Sama dengan Menyiapkan Guru

Alvin juga mengingatkan bahwa menyediakan platform tidak otomatis membuat guru siap menggunakannya. Bahkan ketika guru sudah mulai menggunakan teknologi, belum tentu mereka merasa percaya diri.

Di Bina Bangsa School, persiapan guru menjadi bagian dari proses implementasi. Alvin mencontohkan bahwa ketika sekolah hendak menerapkan penggunaan iPad oleh siswa, guru dipersiapkan satu semester sebelumnya.

Pendekatan serupa diterapkan dalam penggunaan AI. Sekolah menyusun pedoman, mendiskusikannya dengan guru di berbagai kampus, kemudian memberikan pelatihan penggunaan teknologi. Guru juga diberi kesempatan mengeksplorasi bagaimana AI dapat membantu kebutuhan pembelajaran mereka sendiri.

Salah satu contohnya datang dari seorang guru bahasa Inggris yang mengembangkan aplikasi permainan untuk membantu siswa mengenali hubungan antara pilihan kata dan suasana dalam sebuah tulisan. Aplikasi tersebut lahir dari kebutuhan pembelajaran yang dipahami langsung oleh gurunya.

Artinya, mempersiapkan guru bukan hanya soal mengajarkan cara mengoperasikan sebuah platform. Guru perlu memiliki kesempatan untuk menentukan sendiri bagaimana teknologi dapat membantu pekerjaan dan pembelajaran di kelasnya.

Pedoman AI Harus Menjawab Persoalan Nyata

Ketika sekolah mulai menggunakan AI, pertanyaan baru segera muncul. Bolehkah guru menggunakan AI untuk menyusun soal ujian? Apakah siswa boleh menggunakan AI untuk mengerjakan tugas? Bagaimana sekolah menangani dugaan penggunaan AI yang melanggar ketentuan?

Alvin memberikan contoh pendekatan Bina Bangsa School terhadap penyusunan soal. Guru diperbolehkan menggunakan AI, tetapi tetap harus memeriksa setiap pertanyaan sebelum digunakan. Soal yang diserahkan tetap mencerminkan profesionalisme dan tanggung jawab guru, terlepas dari alat yang membantu pembuatannya.

Ia juga menyoroti persoalan penggunaan AI oleh siswa. Larangan yang tidak disertai aturan dan cara penanganan yang jelas dapat menimbulkan persoalan baru, terutama ketika sekolah mengandalkan alat pendeteksi AI yang hasilnya tidak selalu tepat.

Karena itu, pedoman penggunaan AI perlu menjawab situasi yang benar-benar dihadapi guru dan siswa. Bukan sekadar menyatakan bahwa AI diperbolehkan atau dilarang, tetapi menjelaskan batasan, tanggung jawab, dan langkah yang perlu diambil ketika muncul persoalan.

Implementasi Bukan Akhir dari Proses

Ada satu bagian menarik ketika Alvin membahas pengalaman penerapan Smart Book: tidak semua inisiatif langsung berhasil.

Ia menjelaskan bahwa Bina Bangsa School biasanya memulai sebuah inisiatif melalui uji coba di satu kampus atau satu jenjang. Hasilnya kemudian diamati dan diukur sebelum sekolah memutuskan langkah berikutnya.

Alvin mengingatkan agar sekolah tidak terlalu terikat pada satu teknologi atau platform sampai mengabaikan kekurangannya. Keputusan perlu dibuat berdasarkan hasil implementasi, bukan antusiasme terhadap teknologi itu sendiri.

Di sinilah strategi AI berbeda dari rencana pengadaan teknologi. Memilih platform dan menjalankannya hanyalah sebagian dari pekerjaan. Sekolah juga perlu melihat apakah teknologi tersebut benar-benar membantu mencapai tujuan awal, mendengarkan pengalaman guru, dan bersedia memperbaiki pendekatannya.

Keputusan Sekolah Tetap Menjadi Penentu

Teknologi AI akan terus berubah. Platform yang digunakan hari ini mungkin memiliki kemampuan yang berbeda beberapa bulan mendatang. Karena itu, strategi sekolah tidak dapat hanya bergantung pada daftar perangkat atau aplikasi yang ingin digunakan.

Pengalaman Alvin di Bina Bangsa School menunjukkan bahwa sekolah perlu memiliki tujuan yang jelas, menyiapkan guru, menetapkan pedoman penggunaan, serta mengevaluasi hasil implementasi secara berkelanjutan.

Pertanyaan terpenting bukan lagi seberapa banyak teknologi AI yang sudah digunakan sekolah, tetapi apa yang menjadi lebih baik karena penggunaannya.

Dan untuk menjawab pertanyaan itu, sekolah perlu terus melihat kembali kebutuhan siswa, pengalaman guru, serta tujuan pendidikan yang ingin dicapai.

Penulis: Astrid Prahitaningtyas

Artikel terkait:

Share :