Artificial Intelligence (AI): Tantangan untuk Beradaptasi dan Berkembang dalam Pembelajaran Kreatif

artificial intelligence

Eksistensi Artificial Intelligence (AI) di dunia pendidikan mendorong kita untuk terus beradaptasi dan berkembang agar bisa mewujudkan pembelajaran yang efektif. Bagaimana cara mengoptimalisasi AI dalam pembelajaran kreatif?

Dalam Indonesia Edu Webinar yang berjudul “Optimalisasi AI dalam Pembelajaran”, disebutkan bahwa untuk memanfaatkan AI dalam pembelajaran diperlukan Standar Proses, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian, yang  diatur dalam Permendikbudristek No. 16 Tahun 2022 Pasal 2 (2)

Berikut adalah Standar Proses tersebut:

  1. Perencanaan – kegiatan yang dilakukan adalah membuat modul ajar dan silabus. AI yang dapat digunakan, antara lain, adalah ChatGPT, Schemely, Auto Classmate, Lesson Plan, dan Asisten AI.
  2. Pelaksanaan – kegiatan yang dilakukan adalah membuat video pembelajaran dan presentasi. AI yang dapat digunakan, antara lain, adalah Pictory, Canva, dan Soca AI (untuk voice generator).
  3. Penilaian – kegiatan yang dilakukan adalah membuat asesmen formatif (kuis) dan mengoreksi soal uraian panjang. AI yang dapat digunakan, antara lain, adalah ChatGPT, dan Asisten AI.

Indonesia Edu Webinar dengan judul “Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran Kreatif” menyebutkan bahwa ChatGPT adalah satu dari sekian banyak model AI yang tersedia. ChatGPT, singkatan dari Chat Generative Pre-Trained Transformer, merupakan chatbot model bahasa besar yang dikembangkan oleh OpenAI menggunakan model GPT-3.5, yang mampu memahami dan menghasilkan teks yang sifatnya alamiah (mirip manusia). ChatGPT memiliki pengetahuan luas tentang berbagai topik, yang berasal dari berbagai sumber, yaitu data dan teks yang terdapat di internet.

Kendati demikian, kita harus tetap memeriksa ulang konten yang dihasilkan ChatGPT, karena bisa saja konten tersebut sudah kedaluwarsa, tidak akurat, dan bahkan berpotensi bias.

Lantas, mengapa Chat GPT disarankan untuk digunakan dalam pendidikan?

Halaweh, M (2023) dalam bukunya ChatGPT in education: Strategies from responsible implementation, menyatakan:

  1. ChatGPT bisa digunakan sebagai teks, karena model AI ini dapat mengolah bahasa-bahasa asing yang dibutuhkan. Jadi, ChatGPT bisa digunakan untuk mengolah data dan informasi, dan mengubahnya menjadi teks.
  2. ChatGPT bisa digunakan sebagai programming. Artinya, model AI ini dapat digunakan untuk debugging code. Sehingga, jika terjadi eror pada proses coding, ChatGPT dapat mengatasi bug atau kesalahan tersebut.
  3. ChatGPT bisa digunakan sebagai perhitungan. ChatGPT dapat menyelesaikan soal hitungan, misalnya matematika atau statistika.

Mengutip jurnal berjudul  What Is the Impact of ChatGPT on Education? A Rapid Review of the Literature, berikut adalah hal-hal yang harus dipertimbangkan saat menggunakan ChatGPT:

  1. Akurasi dan keandalan

ChatGPT cenderung masih bias karena spektrum kumpulan informasi di dalamnya sangat luas. Selain itu, ChatGPT juga memiliki informasi yang belum diperbarui atau kedaluwarsa, dan bahkan berpotensi memiliki informasi palsu.

  1. Plagiarisme

ChatGPT bisa saja memberikan konten yang sama, terutama jika prompt yang digunakan juga sama. Oleh karena itu, kita harus selalu kritis dan kreatif dalam menerima konten hasil ChatGPT.

Masih menurut Halaweh, M, berikut adalah cara menyikapi ChatGPT:

  1. Lakukan pengkajian

Hal ini disebabkan karena ChatGPT telah mengumpulkan informasi dari spektrum yang sangat luas, dari yang sangat tidak sahih hingga yang paling sahih. Jadi, biasakan untuk berpikir lebih kritis.

  1. Jadikan ChatGPT sebagai referensi

Saat menggunakan ChatGPT, sebaiknya gunakan hanya untuk referensi, bukan informasi atau data utama.

  1. Periksa kemiripan konten

Saat dua siswa melakukan pencarian topik yang sama dengan ChatGPT, akan sangat mungkin jika informasi yang dihasilkan juga sama. Jadi, kita harus selalu memeriksa kemiripan tugas yang dibuat oleh siswa agar terhindar dari plagiarisme.

  1. Lakukan penyusunan ulang

Setelah mendapakan jawaban dari ChatGPT, siswa atau guru sebaiknya melakukan penyusunan ulang kalimat (parafrasa). Ini juga untuk menghindari plagiarisme. 

  1. Buat laporan final

Laporan final ini berisi rekam jejak audit pertanyaan dan refleksi penulis  dalam menggunakan ChatGPT, terkait interpretasi dari informasi yang dihasilkan AI tersebut.

Dalam artikel ini REFO mengajak untuk beradaptasi dan berkembang dalam menghadapi AI. Nantikan artikel dan unggahan REFO lainnya tentang AI, yang akan lebih terkhususkan lagi untuk pendidik dan peserta didik, juga orang tua murid.

Pastikan terus ikuti perkembangannya di Blog REFO, Instagram, dan YouTube.

Penulis: Ega Krisnawati

Artikel terkait:

Share :

Related articles